METODE MEMAHAMI ISLAM

METODE MEMAHAMI ISLAM

Oleh Rustina N

Untuk memahami Islam secara komprehensi dan tepat diperlukan metode. Berikut ini beberapa metode yang ditawarkan oleh ilmuwan muslim yang dapat membantu seorang muslim memahami agamanya.
Ali Syariati dalam bukunya Tentang Sosiologi Islam menguraikan secara singkat tentang metode memahami Islam yang pada intinya bahwa Islam harus dilihat dari berbagai dimensi. Menurutnya, jika Islam ditinjau dari satu sudut pandang saja, maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Mungkin pandangan kita itu akan tepat, namun tidak cukup bila kita ingin memahaminya secara keseluruhan. Buktinya ialah Alquran yang memiliki banyak dimensi, misalnya aspek lingustik dan sastra yang telah banyak dipelajari. Demikian juga aspek-aspek filosofis dan keimanan Alquran yang telah banyak dikaji oleh filosof dan teolog. Sementara dimensi manusiawinya yang mengandung aspek historis, sosiologis dan psikologis belum banyak dikaji. Aspek-aspek tersebut seharusnya dikaji untuk menghasilkan pemahaman Islam secara menyeluruh.
Secara teknis, Ali Syariati menawarkan berbagai cara memahami Islam yang pada intinya adalah melalui metode perbandingan serta melalui pendekatan aliran. Metode perbandingan atau komparasi dengan cara membandingkan Alquran dengan kitab-kitab samawi lainnya, mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaharuan yang pernah hidup dalam sejarah, mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama atau aliran-aliran pemikiran lain. Adapun cara kedua dalam memahami Islam menurut Ali Syariati adalah melalui pendekatan aliran, yakni para intelektual muslim memikul tugas dan amanah untuk memahami Islam, mengkajinya sesuai dengan bidangnya masing-masing untuk menumbuhkan pemahaman yang segar tentang Islam demi masa depan ummat manusia yang lebih baik dengan berpedoman pada Alquran dan Sunnah.
Selanjutnya terdapat pula metode memahami Islam yang dikemukakan oleh Nasruddin Razak yang hampir sama dengan konsep Ali Syariati, yaitu metode memahami islam secara menyeluruh. Ia mengajukan empat cara, yaitu, pertama, islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli, yaitu Alquran dan al-Sunnah, bukan hanya dari sebagian ulama dan pemeluknya, atau hanya dari kitab-kitab filih dan tasawuf; kedua, islam harus dipelajari secara integral, tidak dengan cara parsial, artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja; ketiga, Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaum zuamaa dan sarjana-sarjana Islam karena mereka pada umumnya memiliki pemahaman Islam yang baik yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap Alquran dan Sunnah serta praktek ibadah yang dilakukan setiap hari.
Keempat, Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam Alquran lalu dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris, dan sosiologis yang ada di masyarakat. Memahami Islam dengan cara keempat sebagaimana disebutkan di atas sangat diperlukan dalam upaya menunjukkan peran sosial dan kemanusiaan dari ajaran Islam itu sendiri.
Amin Abdullah dan Mukti Ali juga menawarkan dua metode memahami Islam, yaitu bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu (islamic studies) dapat digunakan pendekatan ilmiah yang ciri-cirinya rasional, empiris,obyektif Sedangkan untuk melihat Islam sebagai agama dapat digunakan pendekatan normatif teologis. Mukti Ali melihat bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah agama dapat digunakan metode doktriner dan untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu, dapat digunakan metode ilmiah dengan ciri-ciri rasional, empiris, obyektif yang selanjutnya disebut pendekatan sintesis.
Metode lain untuk memahami Islam yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi, yaitu mengklasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Dalam hal agama Islam, serta agama lain kita dapat menidentifikasi lima aspek atau ciri dari agama itu, lalu dibandingkan dengan aspek dan ciri yang sama dari agama lain, yaitu aspek ketuhanan, aspek kenabian, aspek kitab suci, aspek keadaan sewaktu munculnya Nabi dan orang-orang yang didakwahi serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.
Selanjutnya untuk memahami Islam dapat pula dilakukan dengan memahami kitab sucinya dan mempelajari pribadi Muhammad bin Abdullah, serta meneliti suasana dan situasi di mana Nabi Muhammad bangkit.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara garis besar ada dua metode yang dapat ditempuh untuk memahami Islam. Pertama, metode komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam dengan agama lain sehingga dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. Kedua metode sintesis, yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, obyektif,empiris, kritis dengan metode teologis normatif.
Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang nampak dalam kenyataan historis, empiris, dan sosiologis, sedangkan metode teologis normatif digunakan untuk memahmi Islam yang terkandung dalam kitab suci. Metode teologis normatif dimulai dari keyakinan bahwa Islam sebagai agama mutlak benar dengan alasan karena agama berasal dari Tuhan dan apa yang berasal dari Tuhan mutlak benar, maka agama pun mutlak benar. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimmana norma ajaran yang berkaitan dengan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Melalui metode teologis normatif yang tergolong tua usianya dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat, kokoh, dan militan pada Islam, sedangkan dengan metode ilmiah yang nilai tergolong muda usianya dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia.
Metode-metode yang digunakan untuk memahi Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi, sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus terus digali oleh pembaharu. (Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Cet. IV; Jakarta: Raja Grafindo Persada, h. 104-115).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: