PENELITIAN AGAMA DAN PENELITIAN KEAGAMAAN

PENELITIAN AGAMA DAN PENELITIAN KEAGAMAAN

Oleh  Rustina N

Middleton, Guru besar antropologi di New York University, berpendapat bahwa penelitian agama (reseach onreligion) berbeda dengan penelitian keagamaan (religius reseach). Penelitian agama lebih mengutamakan pada materi agama, sehingga sasarannya terletak pada tiga elemen pokok, yaitu ritus, mitos, dan magik. Sedangkan penelitian keagamaan lebih mengutamakan pada agama sebagai sistem atau sistem keagamaan. Penelitian agama Islam adalah penelitian yang obyeknya adalah substansi agama Islam: kalam, fikih, akhlak, dan tasawuf. Sedangkan penelitian keagamaan Islam adalah penelitian yang obyeknya adalah agama sebagai produk interaksi sosial. Sedangkan Atho Muzdhar berpendapat bahwa penelitian agama adalah penelitian yang sasarannya adalah agama sebagai doktirn dan penelitian keagamaan adalah penelitian yang sasarannya agama sebagai gejala sosial.
Dalam pandangan Juhaya S. Praja penelitian agama adalah penelitian tentang asal-usul agama, pemikiran serta pemahaman penganut ajaran agama tersebut terhadap ajaran yang terkandung di dalamnya. Lahan penelitian agama ini adalah 1) sumber ajaran agama yang telah melahirkan disiplin ilmu tafsir dan ilmu hadis 2) pemikiran dan pemahaman terhadap ajaran agama yang terkandung dalam sumber ajaran agama yang telah melahirkan filosafat Islam, ilmu kalam, tasawuf dan fikih.
Adapun penelitian tentang hidup keagamaa (penelitian keagamaan) adalah penelitian tentang praktik-praktik ajaran agama yang dilakukan oleh manusia secara individual dan kolektif. Penelitian keagamaan ini meliputi: 1) Perilaku individu dan hubungannya dengan masyarakatnya yang didasarkan atas agama yang dianutnya; 2) Perilaku masyarakat atau suatu komunitas, baik perilaku politik, budaya maupun yang lainnya yang mendefinisikan dirinya sebagai penganut suatu agama; 3) Ajaran agama yang membentuk pranata sosial, corak perilaku, dan budaya masyarakat beragama.
Berkenaan dengan metode penelitian yang diperlukan, maka untuk penelitian yang berkenaan dengan pemikiran atau gagasan dapat digunakan metode filsafat, dan untuk penelitian agama berkenaan dengan sikap perilaku agama, dapat digunakan metode ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi, dan psikologi. Sedangkan penelitian yang berkaitan dengan benda-benda keagamaan maka yang tepat digunakan adalah metode arkeologi. (Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, h. 55-62.

PENELITIAN AGAMA

PENELITIAN DAN PENELITIAN AGAMA

Oleh  Rustina N
Penelitian (reseach) adalah upaya sistematis dan obyektif untuk mempelajari suatu masalah dan menemukan prinsip-prinsip umum. Penelitian juga berarti upaya pengumpulan informasi yang bertujuan untuk menambah pengetahuan.
Penelitian dipandang sebagai kegiatan ilmiah karena menggunakan metode keilmuan, yakni gabungan antara pendekatan rasional dan pendekatan empiris. Pendekatan rasional menggunakan kerangka pemikiran yang logis, sedangkan pendekatan empiris merupakan kerangkan pengujian dalam memastikan kebenaran.
Sebagaimana diketahui bahwa agama mengandung dua kelompok ajaran, yaitu ajaran dasar yang diwahyukan Tuhan melalui para rasul-Nya dan ajaran agama yang merupakan penjelasan-penjelasan para pemuka agama.
Para ilmuwan beranggapan bahwa agama merupakan pula obyek kajian atau penelitian, karena agama merupakan bagian dari kehidupan sosial kultural. Penelitian agama yang dimaksud bukanlah meneliti hakekat agama dalam arti wahyu, melainkan meneliti manusia yang menghayati, meyakini, dan memperoleh pengaruh dari agama. Dengan kata lain, penelitian agama bukan meneliti kebenaran teologi atau filosofi tetapi bagaimana agama itu ada dalam kebudayaan dan sistem sosial berdasarkan fakta atau realitas sosial-kultural.
Adapun wilayah penelitian agama adalah:
– Agama yang terwujud dalam bentuk pengetahuan dan pikiran manusia yang merupakan bagian dari budaya, misalnya gagasan para ahli filsafat, ahli kalam, ahli fikih, dan para sufi. Itu semua wilayah budaya atau filsafat.
– Agama yang terwujud dalam bentuk tindakan dan sikap manusia merupakan produk interaksi sosial. Ini merupakan wilayah ilmu sosial dan ilmu sejarah.
– Agama yang terwujud dalam dalam bentuk benda-benda suci atau keramat, seperti mesjid yang bernilai historis tinggi, bangunan candi, bedug. Ini adalah wilayah kajian antropologi dan arkeologi.

METODE MEMAHAMI ISLAM

METODE MEMAHAMI ISLAM

Oleh Rustina N

Untuk memahami Islam secara komprehensi dan tepat diperlukan metode. Berikut ini beberapa metode yang ditawarkan oleh ilmuwan muslim yang dapat membantu seorang muslim memahami agamanya.
Ali Syariati dalam bukunya Tentang Sosiologi Islam menguraikan secara singkat tentang metode memahami Islam yang pada intinya bahwa Islam harus dilihat dari berbagai dimensi. Menurutnya, jika Islam ditinjau dari satu sudut pandang saja, maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Mungkin pandangan kita itu akan tepat, namun tidak cukup bila kita ingin memahaminya secara keseluruhan. Buktinya ialah Alquran yang memiliki banyak dimensi, misalnya aspek lingustik dan sastra yang telah banyak dipelajari. Demikian juga aspek-aspek filosofis dan keimanan Alquran yang telah banyak dikaji oleh filosof dan teolog. Sementara dimensi manusiawinya yang mengandung aspek historis, sosiologis dan psikologis belum banyak dikaji. Aspek-aspek tersebut seharusnya dikaji untuk menghasilkan pemahaman Islam secara menyeluruh.
Secara teknis, Ali Syariati menawarkan berbagai cara memahami Islam yang pada intinya adalah melalui metode perbandingan serta melalui pendekatan aliran. Metode perbandingan atau komparasi dengan cara membandingkan Alquran dengan kitab-kitab samawi lainnya, mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaharuan yang pernah hidup dalam sejarah, mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama atau aliran-aliran pemikiran lain. Adapun cara kedua dalam memahami Islam menurut Ali Syariati adalah melalui pendekatan aliran, yakni para intelektual muslim memikul tugas dan amanah untuk memahami Islam, mengkajinya sesuai dengan bidangnya masing-masing untuk menumbuhkan pemahaman yang segar tentang Islam demi masa depan ummat manusia yang lebih baik dengan berpedoman pada Alquran dan Sunnah.
Selanjutnya terdapat pula metode memahami Islam yang dikemukakan oleh Nasruddin Razak yang hampir sama dengan konsep Ali Syariati, yaitu metode memahami islam secara menyeluruh. Ia mengajukan empat cara, yaitu, pertama, islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli, yaitu Alquran dan al-Sunnah, bukan hanya dari sebagian ulama dan pemeluknya, atau hanya dari kitab-kitab filih dan tasawuf; kedua, islam harus dipelajari secara integral, tidak dengan cara parsial, artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja; ketiga, Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaum zuamaa dan sarjana-sarjana Islam karena mereka pada umumnya memiliki pemahaman Islam yang baik yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap Alquran dan Sunnah serta praktek ibadah yang dilakukan setiap hari.
Keempat, Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam Alquran lalu dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris, dan sosiologis yang ada di masyarakat. Memahami Islam dengan cara keempat sebagaimana disebutkan di atas sangat diperlukan dalam upaya menunjukkan peran sosial dan kemanusiaan dari ajaran Islam itu sendiri.
Amin Abdullah dan Mukti Ali juga menawarkan dua metode memahami Islam, yaitu bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu (islamic studies) dapat digunakan pendekatan ilmiah yang ciri-cirinya rasional, empiris,obyektif Sedangkan untuk melihat Islam sebagai agama dapat digunakan pendekatan normatif teologis. Mukti Ali melihat bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah agama dapat digunakan metode doktriner dan untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu, dapat digunakan metode ilmiah dengan ciri-ciri rasional, empiris, obyektif yang selanjutnya disebut pendekatan sintesis.
Metode lain untuk memahami Islam yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi, yaitu mengklasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Dalam hal agama Islam, serta agama lain kita dapat menidentifikasi lima aspek atau ciri dari agama itu, lalu dibandingkan dengan aspek dan ciri yang sama dari agama lain, yaitu aspek ketuhanan, aspek kenabian, aspek kitab suci, aspek keadaan sewaktu munculnya Nabi dan orang-orang yang didakwahi serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.
Selanjutnya untuk memahami Islam dapat pula dilakukan dengan memahami kitab sucinya dan mempelajari pribadi Muhammad bin Abdullah, serta meneliti suasana dan situasi di mana Nabi Muhammad bangkit.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara garis besar ada dua metode yang dapat ditempuh untuk memahami Islam. Pertama, metode komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam dengan agama lain sehingga dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. Kedua metode sintesis, yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, obyektif,empiris, kritis dengan metode teologis normatif.
Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang nampak dalam kenyataan historis, empiris, dan sosiologis, sedangkan metode teologis normatif digunakan untuk memahmi Islam yang terkandung dalam kitab suci. Metode teologis normatif dimulai dari keyakinan bahwa Islam sebagai agama mutlak benar dengan alasan karena agama berasal dari Tuhan dan apa yang berasal dari Tuhan mutlak benar, maka agama pun mutlak benar. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimmana norma ajaran yang berkaitan dengan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Melalui metode teologis normatif yang tergolong tua usianya dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat, kokoh, dan militan pada Islam, sedangkan dengan metode ilmiah yang nilai tergolong muda usianya dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia.
Metode-metode yang digunakan untuk memahi Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi, sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus terus digali oleh pembaharu. (Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Cet. IV; Jakarta: Raja Grafindo Persada, h. 104-115).

ISLAM DAN KEBUDAYAAN ISLAM

ISLAM DAN KEBUDAYAAN ISLAM

Apakah Islam itu bagian dari hasil karya, karsa, dan cipta manusia?

Nurcholis Madjid menjelaskan hubungan agama dan budaya. Menurutnya, agama dan budaya adalah dua bidang yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Agama bernilai mutlak, tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat. Sedangkan budaya, sekalipun berdasarkan agama, dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Sebagian besar budaya didsarkan pada agama; tidak pernah sebaliknya. Budaya bisa merupakan ekspresi hidup keagamaan.
Dalam pandangan Harun Nasution, agama pada hakekatnya mengandung dua kelompok ajaran. Kelompok pertama, ajaran dasar yang diwahyukan Tuhan melalui para Rasulnya yang terdapat dalam kitab suci. Ajaran tersebut memerlukan penjelasan, baik mengenai arti maupun cara pelaksanaannya. Penjelasan ini diberikan oleh para pemuka atau ahli agama. Penjelasan-penjelasan mereka terhadap ajaran dasar agama adalah kelompok kedua dari ajaran agama.
Kelompok pertama, karena merupakan wahyu dari Tuhan bersifat absolut, mutlak benar, kekal, tidak berubah dan tidak bisa diubah. Kelompok kedua, karena merupakan penjelasan dan hasil pemikiran pemuka atu ahli agama, pada hakikatnya tidaklah absolut, tidak mutlak benar, tidak kekal, melainkan relatif, nisbi, berubah, dan dapat diubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Menurut ulama kelompok pertama tidak banyak jumlahnya dan terdapat di dalam Alquran dan hadis mutawatir, yang banyak adalah kelompok kedua.
Kaitannya dengan hubungan kemasyarakatan, jumlah ayat yang mengatur nya menurut Harun Nasution hanya sedikit, hanya 228 ayat (3,5 %).
Alquran dan Sunnah yang shahih bukan termasuk budaya. Tetapi pemahaman ulama terhadap ajaran dasar agama merupakan hasil karsa ulama. Oleh karena itu, ia merupakan bagian dari kebudayaan. Akan tetapi ummat Islam meyakini bahwa kebudayaan yang merupakan hasil upaya ulama dalam memahami
ajaran dasar agama Islam dituntun oleh petunjuk Tuhan, yaitu Alquran dan Sunnah karena itu ia disebut kebudayaan Islam.
Pada tingkat praktis, agama Islam merupakan produk budaya karena ia tumbuh dan berkembang melalui pemikiran ulama dengan cara ijtihad, di samping itu, ia tumbuh dan berkembang karena terjadi interaksi sosial di masyarakat.
Jadi, sumber ajaran atau dasar agama Islam, yakni Alquran dan Hadis bukanlah budaya karena bukan produk pikiran manusia, sedangkan penjelasan sumber ajaran tersebut yang terbentuk menjadi berbagai disiplin ilmu merupakan bagian dari kebudayaan Islam.

HUBUNGAN IMAN DAN ILMU

HUBUNGAN IMAN DAN ILMU

Sekarang ini masyarakat umumnya membedakan ilmu agama dengan ilmu non agama. Sedangkan dalam konsep Islam tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, karena keduanya bersumber dari Allah dan berguna untuk mengenal Allah. Oleh karena itu, orang yang berilmu (ilmu agama maupun ilmu umum) seharusnya menjadi mengenal dan bertambah dekat dengan Allah. Dengan kata lain, orang berilmu seharusnya imannya semakin kuat.
Menurut Nurcholis Madjid antara iman dan ilmu dalam Islam tak bisa dipisahkan. Menurutnya, ilmu adalah hasil pelaksanaan perintah Tuhan untuk memperhatikan dan memahami alam raya ciptaan-Nya. Ibnu Rusyd menerangkan bahwa antara iman dan ilmu tidak terpisahkan, meskipun dapat dibedakan. Tidak dapat dipisahkan dalam arti iman semestinya menghasilkan ilmu dan ia berfungsi membimbing ilmu dengan pertimbangan moral dan etis dalam penggunaannya. Ilmu berbeda dari iman karena ilmu berdasar pada observasi terhadap alam dan disusun melalui proses penalaran rasional atau berpikir sedangkan iman bersandar pada sikap pembenaran berita yang dibawa oleh Nabi.
Kata ilmu seakar kata dengan kata ‘alam (bendera atau lambang), alamah (alamat/pertanda) dan alam (jagad raya). Tiga kata ini, alam, alamah, dan ‘alam harus diketahui (dima’lumi), yakni menjadi objek pengetahuan. Jagad raya disebut alam karena fungsinya sebagai tanda kebesaran Sang maha Pencipta.
Untuk kepentingan analisis, tanda-tanda Tuhan dapat bedakan menjadi tiga, yaitu jagad raya, manusia, dan wahyu. Ketiga menghasilkan ilmu yang berbeda-beda tetapi tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya.
Manusia yang ingin menyingkap rahasia Allah melalui tandanya berupa jagad raya menggunakan ilmu-ilmu fisik (fisika, kimia, geografi, geologi, astronomi dll). Mereka yang hendak mengenal Allah melalui tandanya berupa manusia menggunakan ilmu struktur tubuh manusia (kedokteran, biologi, sosiologi, kilmu komunikasi, sejarah, ekonomi dll) dan mereka yang ingin mengenal Allah melalui tandanya berupa wahyu menghasilkan ilmu-ilmu keagamaan, seperti ulumul qur’an, ulumul hadis, tafsir, fikih, tasawwuf. Jalur manapun yang ditempuh akan melahirkan manusia yang semakin dekat dengan Tuhan atau semakin kuat imannya.

IKHLAS BEKERJA

MOTIVASI BEKERJA

عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar bin Khaththab ra. Di atas minbar berkata: Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya perbuatan harus disertai niat dan sesungguhnya seseorang itu hanya akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya.Barang siapa yang berhijrah karena dunia atau karena wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya sesuai dengan tujuan hijrahnya.

Ulama berbeda pendapat tentang makna kalimat innama al-a’malu bi al-niat
Sebagian berpendapat bahwa makna kalimat tersebut adalah ibadah dinilai sah jika disertai dengan niat atau niat adalah syarat sahnya suatu ibadah karena bunyi lengkap kalimat tersebut adalah
Dan sebagian ulama berpendapat niat tidak menjadi syarat sahnya suatu ibadah pengantar, seperti wudhu dan tayammum. Meskipun mereka mensyaratkannya untuk ibadah yang menjadi tujuan sebenarnya dalam melakukan wudhu atau tayammum, seperti shalat., karena menurut mereka kata yang hilang dalam kalimat hadis adalah ……

Niat menurut bahasa berarti maksud kehendak hati. Sedangkan menurut istilah syara adalah kemauan untuk melakukan suatu perbuatan untuk mengharapkan keridhaan Allah dan mematuhi peraturannya. Niat merupakan perbuatan hati.
Niat seseorang terhadap suatu perbuatan atau pekerjaannya akan menentukan nilai dan derajatnya di sisi Allah. Misalnya, apabila ada dua orang bersedekah, belum tentu mempunyai nilai sama di sisi Allah. Si A bersedekah karena menginginkan posisi terhormat di mata seorang presiden, menteri, ataupun pembesar lainnya. Sedangkan si B bersedekah karena menjaga kemuliaan dirinya, karena menjalankan perintah Allah dan untuk memperoleh ridhah-Nya. Keduanya berlaku jujur, namun derajatnya berbeda di sisi Allah. Kejujuran si A mempunyai derajat yang rendah dengan kata lain tidak mempunyai nilai disisi Allah karena semata-mata mengejar dunia. Allah mengibaratkannya seperti batu licin yang di atasnya ada tanah lalu datang hujan menyiramnya sehingga tanah itu hilang tanpa tersisa. Adapun si B, kejujurannya berada pada derajat yang tinggi karena timbul dari hati yang bersih untuk menjalankan perintah Allah dan memperoleh ridha-nya. Perbuatan seperti ini diibaratkan oleh Allah seperti kebun yang berada di tanah yang tinggi lalu disrimi hujan deras sehingga berbuah lebat, dan meskipun hanya mendapat hujan gerimis kebun itu tetap berbuah. Demikian juga bila ada dua orang yang shalat. Yang satu shalat karena riya ingin disebut orang shaleh, sedangkan yang lain karena menjalankan kewajiban, untuk membersihkan jiwanya dan mengharapkan ridha Allah. Tentu saja nilai shalat dan derajat keduanya tidak akan sama. Orang yang berniat melakukan suatu pekerjaan untuk memperoleh ridha Allah maka ia akan memperolehnya sedangkan orang yang berniat untuk dunia maka ia tidak akan memperoleh pahala, dan oang yang berniat jahat akan mendapatkan celaka.

Kata hijrah dalam hadis ini berarti berpindah dari Makkah, wilayah orang kafir ke Yatsrib, wilayah orang Islam. Hijrah pada saat itu merupakan langkah terbaik karena Makkah pada waktu itu dikuasai oleh orang-orang musyrik. Dengan hijrah, memungkinkan kaum muslimin menegakkan agama dan belajar kepada Nabi saw sambil mendengarkan wahyu dan menghimpun kekuatan sedikit demi sedikit.

Dalam hadis ini Rasulullah menjelaskan bahwa hijrah yang dilakukan oleh manusia tidaklah mempunyai derajat yang sama disisi Allah. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan rasul-Nya atau dengan maksud untuk menegakkan kalimatullah dengan mempelajari Alquran dan sunnah rasul-Nya lalu mengamalkannya secara mantap maka itulah sebanar-benarnya hijrah, dilakukan oleh muslim yang ikhlas dan ia akan memperoleh pahala yang besar. Adapun mereka yang berhijrah karena tujuan yang lain, misalnya menginginkan suatu kemasyhuran, atau lari dari peperangan, atau menghindar dari hakim yang zhalim, atau raja yang bengis, atau ingin mengawini seorang wanita atau karena tujuan lain yang bersifat duniawi semata, maka ia tidak memperoleh pahala hijrah (untuk pengabdian kepada agama) bahkan ia tidak akan meperoleh pahala karena apa yang dilakukannya itu bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Para ahli hadis mengungkapkan bahwa hadis ini muncul karena ada seorang laki-laki yang hijrah dari makkah ke Madinah karena menginginkan Ummu Qais. Laki-laki tersebut berhijrah bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah, melainkan semata-mata hanya untuk menikahi Ummu Qais. Dengan demikian dia tidak memperoleh pahala hijrah sebagaimana sahabat yang lain.

Hadis ini pada dasarnya menganjurkan kita agar senantiasa ikhlas dalam perbuatan dan pekerjaan, yakni memurnikan niat melakukan suatu pekerjaan semata-mata untuk memperoleh ridha Allah bukan untuk kepentingan duniawi. Hadis ini juga mendorong kita untuk berbakti kepada agama, meskipun harus dengan cara meninggalkan tanah kelahiran, harta benda dan anak-anak. Di samping itu, menjelaskan bahwa perbuatan tidak dinilai menurut dzahirnya , tetapi dinilai dari niat yang mendasarinya.

**Sumber al-Adab al-Nabawi karya Muhammad Abd al-Aziz al-Khuliy dan Syarah Arbain karya Imam al-Nawawiy.

HUBUNGAN IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

HUBUNGAN ISLAM, IMAN, DAN IHSAN

حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ …. وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ….
Artinya:
Umar Bin Khattab ra. Berkata “Suatu hari kami duduk-duduk di samping Rasulullah, tiba-tiba datang seorang laki-laki…. Dan berkata” Ya Muhammad, beritahulah saya mengenai Islam” Rasulullah saw. menjawab, Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kemudian mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan melakukan haji jika kamu mampu. Laki-laki itupun berkata, Engkau benar.’ Kami heran dengan tingkah lakunya karena dia bertanya kepada Nabi saw tetapi membenarkan jawaban beliau. Kemudian dia berkata lagi kepada Nabi, ‘beritahulah saya mengenai iman, ‘Beliau menjawab Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir baik dan buruk. Dia berkata ‘Engkau benar’. Laki-laki itu berkata lagi Beritahulah saya tentang ihsan, Nabi saw pumn menjawab Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya. Apabila kamu tidak mampu melihatnya, yakinlah bahwa Allah melihat kamu…. (HR. Muslim)

Hadis tersebut di atas menceritakan dialog antara Nabi Muhammad saw. dan Malaikat Jibril tentang trilogi ajaran ilahi, yaitu Islam, iman , dan ihsan. Hadis ini memberikan ide kepada umat Islam sunni tentang rukun iman yang enam, rukun Islam yang lima, dan penghayatan terhadap Tuhan Yang maha hadir dalam hidup. Ketiga hal tersebut dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Antara yang satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan.
Setiap pemeluk agama Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam tidak absah tanpa iman, dan iman tidak sempurna tanpa ihsan. Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga mustahil tanpa Islam. Jadi, ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Apabila seseorang sudah muslim berarti ia juga sekaligus mukmin dan muhsin.
Pendapat berbeda dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah. Menurut Ibnu Taimiah hadis tersebut di atas menunjukkan bahwa Islam, iman dan ihsan adalah tiga unsur dari din (agama) yang mengandung makna tingkatan keberagamaan seseorang : orang mulai dengan Islam, kemudian berkembang ke arah iman, dan memuncak dalam ihsan. Ia merujukkan pendapatnya itu pada surah Fathir (35)ayat 32:
                       
32. Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan[1260] dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

[1260] yang dimaksud dengan Orang yang menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, dan pertengahan ialah orang-orang yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan.

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa tingkatan pertama adalah orang-orang yang menerima warisan kitab suci dengan mempercayai dan berpegang teguh pada ajaran-ajrannya, namun masih melakukan perbuatan-perbuatan zalim, adalah orang yang baru ber-Islam, kedua; orang yang menerima kitab suci, telah terbebas dari perbuatan zalim namun perbuatan kebajikannya sedang-sedang saja, mereka sudah meningkat ke golongan mukmin (tingkatan menengah); dan ketiga mukmin yang telah terbebas dari perbiatan zalim dan senantiasa menjadi pelomba dan semata-mata hanya melakukan kebajikan maka ia mencapai derajat ihsan, maka ia akan masuk surga tanpa mengalami azab. Dengan kata lain, Islam adalah mabda’ (permulaan); iman adalah menengah (wasath); dan ihsan adalah kesempurnaan (al-kamal).

Dalam hadis tersebut di atas Nabi saw menjelaskan tiga hal pokok yang ditanyakan oleh Jibril as., yaitu iman, islam, dan ihsan. Kata iman bersal dari kata amana yu’minu, artinya percaya atau yakin. Iman adalah pengakuan dalam jiwa atau perbuatan hati. Kalimat “kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya dan Kitab-kitab-Nya,” maksudnya adalah mempercayai dan meyakini keberadaan Allah Yang Maha suci dan mempunyai sifat keagungan, kesempurnaan, dan suci dari sifat-sifat kekurangan (QS. Al-Syura:11). Dialah yang Mahaesa, Yang Hak (benar) sebagai tempat bergantung. Dialah yang tunggal dan pencipta semua makhluk. Dia melakukan apa saja yang dikehendakinya serta berbuat apa saja yang diingini-Nya atas milik-Nya.
Beriman kepada para malaikat adalah membenarkan eksistensi mereka bahwasanya mereka adalah para hamba yang mulia (QS. Al-anbiya:26). Tidak akan mendahului ucapan Allah, serta selalu melakukan perintah-perintah-Nya (QS. Al-AlTahrim:6). Didahulukannya iman kepada malaikat atas iman kepada kitab-kitab dan rasul-Nya mempertimbangkan dari segi urutan (li al-tartib). Sebab Allah mengutusa malaikat dengan membawa kitab untuk para Rasul-Nya. Iman kepada kitab-kitab Allah berarti membenarkan bahwa kitab-kitab tersebut adalah firman Allah, isinya adalah hak, mengajak umat menuju kesuksesan dan kebaikan, kemenangan dan kebahagiaan Beriman kepada para Rasul-Nya berarti membenarkan bahwa para rasul merupakan orang-orang yang jujur dalam menyampaikan khabar dari Allah swt.. mereka dikuatkan dengan mukjizat yang menunjukkan kejujuran mereka dan membenarkan bahwa mereka menyampaikan risalah-risalah dari Allah dan menjelaskan kepada orang-orang mukalaf apa-apa yang diperintahkan Allah. Mukalaf diwajibkan menghormati mereka tanpa membedakan antara rasul dengan lainnya. Di samping itu, juga mengimani bahwa Muhammad saw adalah penutup para nabi dan rasul (Qs. Al-Ahzab:40). Juga mengimani bahwa risalah yang dibawanya adalah abadi dan berlaku secara umum bagi seluruh manusia.
Beriman kepada hari akhir artinya membenarkan keberadaan hari kiamat dan segala sesuatu yang menjadi rangkaian kiamat, seperti hari kebangkitan, hari dikumpulkan pada satu tempat ketika Allah swt. menghidupkan orang setelah mati, hari perhitungan amal, timbangan amal, sirat (jembatan), serta surga dan neraka yang merupakan tempat balasan amal seseorang.
Beriman kepada takdir, artinya bahwa Allah swt mengetahui kadar dan masa segala sesuatu sebelum diciptakan.
Menurut Ibnu al-Batthal al-Maliki, iman bisa bertambah dan berkurang sebagaimana firman Allah QS. Al-Fath: 4         •            
4. Dia-lah yang Telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang Telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi[1394] dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,

Amal perbuatan bisa menjadikan iman bertambah dan berkurang. Demikian juga bertambah dan berkurangnya iman disebabkan amal perbuatan. Pembenaran hati bisa bertambah karena sering menganalisis suatu persoalan dengan landasan dalil-dalil yang bersifat lahiria. Oleh karena itu, iman orang-orang yang bersifat jujur dan dapat dipercaya lebih kuat. Hati mereka tidak dihadapkan pada persoalan yang belum jelas. Imannya sahabat Abu Bakar ra. terhadap Islam atau Nabi Muhammad saw. tentu memiliki perbedaan dengan pembenaran hati manusia lainnya. Imam Bukhari menjelaskan bahwa Ibnu Abi Mulaikah mengatakan “ Saya telah menjumpai tiga puluh orang laki-laki dari sahabt. Di antara mereka tidak seorang pun yang pernah berkata bahwa imannya senilai dengan imannya Jibril as. Dan Mikail as.
Adapun kata Islam berasal dari kata aslama yang berarti tunduk, patuh, atau tindakan penyerahan diri seseorang sepenuhnya kepada kehendak orang lain. Dalam hadis ini Nabi menyebutkan bahwa islam itu adalah mengucapkan dua kalimah syahadat. Mendirikan shalat, berpuasa, mengeluarkan zakat, dan berhaji ke Baitullah.
Syahadat, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, adalah pokok keislaman karena di dalamnya disebutkan ciri-ciri Islam yang paling jelas. Di samping itu, syahadat merupakan rukun Islam yang paling utama. Dengan syahadat pula, keislaman seseorang bisa dianggap sah. Salat adalah perbuatan yang mencerminkan hubungan seorang hamba dengan sang pencipta. Zakat mencerminkan hubungan luhur dalam tolong menolong dan kerja sama, hubungan seorang muslim terhadap saudaranya yang miskin. Puasa mengantarkan seorang muslim ke derajat muttaqin menggapai ridhanya, dan nilai keikhlasan baik secara rahasia maupun terang-terangan, dan ibadah haji yang mencakup ibadah fisik jasmaniah dan materi merupakan simbol muktamar Islam terbesar, di mana kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia islam berkumpul untuk memusyawarahkan permasalahan dunia dan akhirat.
Bila hadis di atas dicermati secara mendalam, dipahami bahwa Islam itu adalah terletak dalam perbuatan, baik perbuatan lisan (ucapan) maupun perbuatan anggota tubuh. Islam (tunduk dan patuh) merupakan realisasi dari iman (percaya dan yakin)yang ada dalam hati.
Kata Islam bisa juga mencakup pengertian dasar iman demikian pula sebaliknya, karena kepatuhan merupakan hasil dari pembenaran sebagai dasar iman. Menurut Ibnu Shalah, Iman dan Islam terkadang bisa bersatu dan terkadang tidak. Setiap orang yang beriman (mukmin) merupakan seorang muslim. Akan tetapi, tidak setiap muslim adalah mukmin. Firman Allah dalam QS. Al-Hujurat (49): 14

   •                        •    
14. Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami Telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami Telah tunduk’, Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa muslim belum tentu merupakan mukmin, karena muslim baru merupakan langkah yang paling awal untuk mencapai mukmin. Muslim adalah suatu kepercayaan dangkal yang belum merasuk dalam ke dalam hati.

Dengan demikian, seorang muslim yang melakukan dosa besar atau meninggalkan kewajiban tidak dapat disebut sebagai mukmin yang sempurna. Bahkan, seseorang yang melakukan satu perbuatan dosa pun bisa dikategorikan orang yang tidak sempurna keimanannya, seperti dalam hadis sebagai berikut:

“Seorang pezina tidak akan berbuat zina, manakala dia dalam keadaan beriman dan begitu juga seorang pencuri tidak akan mencuri manakala dia dalam keadaan beriman (HR. Ibnu majah)
Adapun Ihsan (kebaikan) dijelaskan dengan kalimat “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya dan jika engkau tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Pengertian ini akan menuntun seorang mukmin untuk selalu menghadirkan Allah dalam hatinya, bahwa Allah senantiasa mengawasi segala tingkah laku dan gerak-geriknya. Dengan demikian ia akan takut untuk melalukan keburukan dan kezaliman karena adanya keyakinan dalam hati bahwa Allah melihatnya dan pada akhirnya semua perbuatannya yang timbul adalah kebaikan semata dan mencapai derajat muhsin.
Dalam hadis riwayat imam Bukhari tersebut di atas, penyebutan iman didahulukan atas Islam karena iman adalah dasar sedang Islam adalah pembenaran secara lahiriah atas pengakuan imannya. Adapun penyebutan ihsan pada posisi ketiga karena ihsan bergantung kepada iman dan Islam. Dalam riwayat yang lain, yaitu riwayat Imam Muslim penyebutan Islam didahulukan atas iman dikarenakan islam adalah perkara lahir sedang iman adalah perkara batin. Bahkan dalam sebagian riwayat lain dimulai dengan penyebutan islam, kemudian ihsan, lalu iman.
Perbedaan penyebutan urutan tiga unsur tersebut bukanlah suatu yang mendasar. Hal ini disebabkan adanya periwayatan secara makna.
Pada dasarnya penyebutan Islam terkadang menempati pengertian iman dan begitu pula sebaliknya. Sebagaimana dalam hadis tentang utusan Abdul Qais tatkala rasulullah bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian apakah iman itu ?. Mereka menjawab Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu. Kemudian rasulullah bersabda, Iman adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan hendaklah kalian membayar seperlima dari ghanimah.”
Contoh lain seperti dalam QS. Al-Iman (3):19 “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanya Islam.
Dalam hadis tentang pertanyaan Rasulullah kepada utusan Abdul Qais di atas penyebutan iman dimutlakkan dengan Islam. Adapun Islam dalam ayat di atas adalah Islam dalam arti pembenaran (tashdiq) dan amal, yang berarti identik dengan defenisi iman; sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam riwayat Ibnu majah, “Iman itu adalah mengetahui dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan beramal dengan nyata.”
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa unsur islam, iman, dan ihsan bila dilihat dari segi essensinya ketiganya tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat diurai. Namun, bila dilihat dari segi penjengjangan atau tingkatan keberagamaan maka diawali dengan muslim, mukmin, lalu muhsin.

**Sumber Syarah Hadis Arbain karya an-Nawawi dan Metodologi Studi Islam karya Atang Abd Hakim.