Makna Nuzul al-Qur’an

MEMAHAMI MAKNA NUZUL AL-QUR’AN
Rustina N.
I. Pendahuluan
Alquran adalah kalam Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai mukjizat, diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, dan membacanya dinilai sebagai ibadah. Orang yang tidak mempercayai Alquran sebagai firman Allah atau menggapnya sebagai karangan Muhammad saw berarti tergolong kafir karena banyak ayat Alquran yang menekankan bahwa orang beriman itu harus meyakini bahwa Alquran dan kitab-kitab sebelumnya adalah firman Allah swt.
Adalah Nabi Muhammad saw. yang telah dipilih oleh Allah swt. di antara seluruh manusia untuk menerima Alquran. Kitab mulia yang merupakan penyempurna kitab-kitab suci umat terdahulu ini salah satu sebutannya adalah hudan (petunjuk), yakni petunjuk bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, sungguh merugilah mereka yang tidak menyediakan waktu untuk membaca, memahami, dan menyimak isi kitab yang agung ini.
Umat Islam sebagai pemilik kitab suci Alquran ini sangatlah mengagungkan dan menghormatinya. Sehingga apapun yang berkaitan dengan Alquran senantiasa mendapatkan perhatian. Salah satu aspek dari Alquran yang sangat dihormati dan diperhatikan oleh umat Islam adalah nuzul al-Quran yang diartikan sebagai hari turunnya Alquran yang oleh umat Islam di Indonesia senantiasa diperingati setiap tahun, bahkan secara kenegaraan di Istana negara dipimpin oleh presiden setiap tanggal 17 Ramadhan.
Pemahaman tentang nuzul al-Qur’an ini tampaknya masih perlu ditekankan, karena Nabi saw menerima Alquran tersebut bukan dalam bentuk mushaf yang merupakan benda, tetapi dalam bentuk wahyu sehingga kata nuzul (turun) dikaitkan dengan Alquran tidaklah sama maknanya dengan turunnya hujan dari langit ke bumi atau turunnya seseorang melalui tangga dari atas ke bawah. Tidak sedikit di antara umat Islam yang memiliki pemahaman seperti ini tentang nuzul al-Qur’an.
Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan membahas permasalahan tentang apakah makna nuzul Qur’an? Pembahasan dilakukan melalui kajian semantik kata nuzul dan kajian historis tentang cara dan waktu nuzul Alquran.
II. Pengertian Nuzul
Secara etimologis, kata nuzul memiliki banyak pengertian, yaitu turun, jatuhnya sesuatu, meluncur dari atas ke bawah, dan singgah atau tiba di tempat tertentu. Pengertian terakhir inilah dikatakan oleh al-Zamakhsyariy sebagai makna hakiki dari kata nuzul.
Sedangkan menurut al-Zarqaniy, nuzul berarti berpindahnya sesuatu dari atas ke bawah atau bergeraknya sesuatu dari atas ke bawah. Akan tetapi, kedua pengertian tersebut tidak tepat dan tidak lazim bagi pengertian nuzul Alquran. Pengertian tersebut lebih tepat dan lazim digunakan untuk hal yang berhubungan dengan tempat dan benda atau materi yang memiliki berat jenis tertentu, sedangkan Alquran, baik berupa kalam lafzhiy maupun kalam nafsiy, bukanlah materi.
Bagi al-Zarqaniy, pengertian nuzul untuk Alquran harus diartikan secara metaforis (majaz), yaitu al-‘i’lam bih, yakni pemberitahuan Allah dalam segala aspeknya. Pengertian ini lebih sesuai dengan kedudukan dan eksistensi Alquran karena yang diacu dari kalam Allah adalah dalalah dan pemahamannya. Pentakwilan kata nuzul dengan i’lam berarti kembali kepada apa yang telah diketahui dan dipahami atau Alquran yang telah diberitahukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw sesuai dengan kehendak-Nya sebagai petunjuk bagi manusia. Sedangkan menurut al-Zarkasyiy, nuzul berarti Allah mengajarkan Alquran kepada Jibril as., baik mengenai bacaannya maupun pemahamannya, lalu Jibril menyampaikannya kepada Nabi Muhammad saw. yang berada di bumi.
Mengartikan nuzul Alquran sebagai pemberitahuan Allah atau pengajaran Allah kepada Nabi saw melalui Jibril as. sesuai pula dengan hakekat Alquran tersebut sebagai wahyu. Sebagaimana diketahui pengertian wahyu menurut syara’ adalah “pemberitahuan Allah swt. kepada para hamba-Nya yang terpilih mengenai segala aspek yang Ia kehendaki untuk dikemukakan-Nya, baik berupa petunjuk maupun ilmu, dengan cara rahasia dan tidak terjadi pada manusia biasa”.
Jadi, nuzul al-Qur’an artinya waktu atau saat Allah memberitahukan atau mengajarkan satu ayat atau beberapa ayat atau seluruh ayat Alquran secara utuh kepada Nabi saw melalui Jibril as. dengan cara rahasia.
Mengartikan nuzul bagi Alquran dengan turun dari atas ke bawah secara hakiki juga tidak tepat bila dilihat dari segi Nabi sebagai penerima nuzul yang berada di bumi. Setiap kali Nabi menerima nuzul Alquran, tentu beliau betul-betul tidak merasakan berada di atas punggung bumi atau sedang bergantung di bumi. Bukankah kita ketahui bahwa bumi tempat manusia berpijak ini mengalami perputaran baik rotasi, revolusi maupun evolusi, sehingga manusia tidak merasakan apakah dirinya sedang berada pada posisi berdiri di atas punggung bumi atau sebenarnya ia tergantung. Sekiranya tidak terikat oleh hukum grafitasi, tentu manusia terlempar dari perputaran bumi.
Dengan demikian, pada dasarnya arah atas dan bawah tidak tentu dan pasti. Demikian juga, Jibril sebagai pembawa wahyu kepada Nabi saw. tidak selalu datang dari atas karena ia tidak terikat oleh hukum grafitasi. Jika Allah menghendaki Jibril as. muncul, maka ia tidak hanya muncul dari atas saja, tetapi bisa dari arah manapun juga.
Jadi, bagi mereka yang mengartikan nuzul Alquran dengan turunnya Alquran haruslah memaknainya dengan cara menyamakan pemberitahuan orang dari “atasan” kepada “bawahan”nya, atau datangnya sesuatu dari yang berderajat tinggi ke yang berderajat rendah, yaitu pemberitahuan Alquran oleh Zat yang Agung yang berkedudukan Maha Tinggi kepada hambanya yang terpilih Muhammad saw.
II. Cara dan Waktu Nuzul Alquran
Sebelum sampai kepada Nabi Muhammad saw. di bumi, Alquran telah terlebih dahulu melalui dua proses nuzul, yaitu ke Lawh al-Mahfuzh lalu ke Bait al-Izzah, seterusnya kepada Nabi saw.
Nuzul al-Quran ke Lauh al-Mahfuz tidak diketahui waktunya, tetapi ulama sepakat bahwa terjadi secara sekaligus. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Buruj (84):21-22 yang berbunyi:
بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ مَجِيدٌ (21) فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ (22)
Terjemahnya:
Bahkan (yang didustakan mereka itu) Alquran yang mulia di Lauw al-Mahfuz
Selanjutnya Alquran nuzul ke Bait al-Izzah atau Langit Dunia yang terjadi pula secara sekaligus atau secara utuh, waktunya kejadiannya pada satu malam di bulan Ramadhan yang disebutkan oleh Allah dengan lailah al-qadr (malam kemuliaan) dan lailah al-mubarakah (malam yang penuh berkah). Satu pendapat menyebutkan nuzul Alquran ke langit dunia ini secara utuh tertuju langsung kepada Nabi Muhammad saw dengan tujuan menerangi Nabi saw dengan makrifat Ilahi yang agung, rahasia-rahasia alam yang besar, agar kalbu beliau saw penuh dengan ilmu-ilmu qurani serta hakikat-hakikat alam semesta yang agung.
Mengenai waktu nuzul secara sekaligus dan utuh pada bulan Ramadhan ini dapat diketahui dari informasi Alquran sendiri, yaitu dalam QS. Al-Baqarah (2) : 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Terjemahnya:
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Dan QS. al-Anfal (8) :41
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ ءَامَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(41)
Terjemahnya:
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Kedua ayat tersebut di atas menyebutkan bahwa nuzul Alquran terjadi pada bulan Ramadhan atau hari al-Furqan bertepatan dengan hari bertemunya dua pasukan ( يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ) yaitu pasukan kaum muslimin dan pasukan musuh pada peristiwa Perang Badr yang menurut ahli sejarah terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa nuzul Alquran secara sekaligus dan utuh ini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Akan tetapi perlu ditegaskan bahwa kedua peristiwa tersebut bukan terjadi pada tahun yang sama, karena perang Badr baru terjadi pada tahun kedua Hijriah.
Dengan demikian, yang diperingati oleh umat Islam setiap tanggal 17 Ramadhan itu adalah hari turunnya Alquran ke langit dunia atau ke pada Nabi saw secara utuh, bukan hari turunnya QS. Al-Alaq ayat 1-5.
Kesimpulan ini dapat diambil dengan memahami perbedaan makna dua kata dipergunakan oleh Allah swt. yang menunjuk pada penurunan Alquran, yaitu أَنْزَلَ dan نَزَّل (dengan variannya). Kedua kata ini dalam bahasa Indonesia berarti “menurunkan”. Namun, dalam bahasa Alquran, keduanya dibedakan. Kaidah tafsir mengatakan: “perbedaan bentuk kata mengakibatkan perbedaan makna” إختلاف المباني لإختلاف المعاني . para mufassir kemudian mengatakan bahwa kata أنْزَلَ mengacu pada penurunan Alquran secara sekaligus. Sedangkan kata نَزَّلَ mengacu pada penurunan Alquran secara berangsur-angsur.
Setelah nuzul secara sekaligus, Alquran kemudian dinuzulkan lagi secara berangsur-angsur oleh Allah kepada Nabi saw yang lamanya sekitar 23 tahun. Ayat yang pertama turun adalah QS. Al-Alaq ayat 1-5.
Lalu, kapan ayat Iqra’ surah al-Alaq tersebut diturunkan? Ada banyak pendapat, di antaranya ada yang mengatakan pada bulan Rajab. Namun, ada satu riwayat dari Nabi saw. yang menurut beberapa pakar hadis Indonesia merupakan hadis yang paling kuat dalam hal nuzul al-Quran mengatakan bahwa Alquran nuzul pada malam tanggal 24 Ramadhan. Hadisnya sebagai berikut :
عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَتْ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya:
Dari Watsilah bin al-Asqa’, Nabi saw. bersabda: Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat pada malam keenam, Injil pada malam ketiga belas dan al-Furqan (Alquran) pada malam kedua puluh empat Ramadhan.
Meskipun hadis ini juga menggunakan kata أنزل , tetapi bahasa Hadis tidak sama dengan bahasa Alquran. Bahasa Hadis bisa diriwayatkan secara makna (kutipan tidak langsung) sehingga boleh jadi bahasa teks hadis tidak bersumber langsung dari Nabi saw., melainkan dari para periwayat hadis.
Adanya proses nuzul Alquran secara utuh dan secara berangsur-angsur atau sedikit demi sedikit itu berdasarkan keterangan dalam beberapa hadis riwayat ibnu Abbas: “Alquran diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam lailatul Qadr kemudian sesudah itu turun (berangsur-angsur) dalam waktu dua puluh tahun. Riwayat Ibnu Abbas dari jalur lain menyebutkan: “(Bulan Ramadhan) yang di dalamnya Alquran diturunkan oleh Jibril sekaligus ke langit dunia. Kemudian setelah itu ia diturunkan kepada Muhammad saw dari hari ke hari, satu ayat, dua ayat, atau tiga ayat, atau satu surah.
Dengan demikian, jelaslah bahwa al-Qur’an al-Karim telah dinuzulkan secara keseluruhan kepada Rasulullah saw atau ke langit dunia, dan setelah itu ia nuzul secara berangsur-angsur sepanjang masa hidup beliau setelah diutus menjadi rasul.
III. Penutup
Mencermati uraian tersebut di atas dipahami bahwa makna nuzul Alquran adalah pemberitahuan Allah kepada Nabi Muhammad saw berupa ayat-ayat Alquran, baik secara sekaligus maupun berangsur-angsur. Memaknai nuzul Alquran menurut arti etimologisnya, yaitu turunnya Alquran, berarti Alquran berasal dari zat Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung turun kepada hamba-Nya yang terpilih, Muhammad saw.
Peringatan nuzul al-Qur’an setiap tanggal 17 Ramadhan pada dasarnya adalah memperingati nuzulnya Alquran secara sekaligus atau utuh, bukan memperingati nuzulnya surah al-Alaq ayat 1-5. Surah al-Alaq nuzul menurut riwayat terkuat pada tanggal 24 Ramadhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: