Metode Penulisan Tafsir Mawdhu’iy

METODE PENULISAN TAFSIR MAWDHU’IY
Oleh Rustina N
A. Pendahuluan
Jika ditelusuri perkembangan tafsir al-Qur’an sejak dulu sampai sekarang, akan ditemukan bahwa dalam garis besarnya penafsiran al-Qur’an itu dilakukan melalui empat cara (metode), yaitu Ijmali (global), tahlili (analitid), muqarin (perbandingan), dan mawdhu’iy (tematik).
Dari keempat metode tersebut, tafsir tematik dianggap memiliki beberapa kelebihan dari metode lainnya. Metode ini dapat menjawab tantangan zaman. Selain karena praktis dan sistematis, juga karena metode ini memunculkan sikap dinamis dalam penafsiran serta menghasilkan pemahaman yang utuh.
Metode tematik dibangun di atas prinsip istanthiq al-Qur’an (ajaklah al-Quran berbicara atau biarkan ia menguraikan isinya). Juga atas dasar al-Qur’an yufassir ba’duhu ba’dan (al-Quran itu, bagian-bagiannya saling menafsirkan). Dengan begitu, maka mufassir yang menggunakan metode tematik ini harus berupaya menghimpun ayat-ayat al-Quran dari berbagai surah dan yang berkaitan dengan persoalan atau topik yang ditetapkan sebelumnya, kemudian menganalisis kandungan ayat-ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
Makalah ini akan menjelaskan bagaimanakah penulisan hasil penelitian tafsir, terutama terkait dengan metode tafsir tematik ini.
B. Langkah-langkah Penulisan.
Penelitian tafsir termasuk penelitian kualitatif dengan berlandaskan filsafat rasionalisme yang menggunakan beberapa pendekatan, karena menurut rasionalisme, ilmu yang valid merupakan abstraksi, simplikasi, idealisasi dari realitas dan terbukti koheren dengan sistem logikanya. Ditampilkannya aliran rasionalistik ini karena secara ontologis, ayat-ayat al-Quran sangat terbatas tetapi sarat dengan pesan-pesan yang membutuhkan interpretasi. Dengan landasan rasionalisme ini diharapkan dapat dibangun suatu konsep teoritis dan dapat dikembangkan.
Adapun secara aksiologis, data-data penelitian tafsir yang berupa ayat-ayat al-Quran, kebenarannya bukan hanya ditangkap oleh alat indrawi, akan tetapi dengan menggunakan kemampuan nalar dan akal budi untuk memaknai emperi sensual dari suatu kebenaran al-Quran, lebih memberi arti yang holistik dan komprehensif.
Beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam penelitian tafsir adalah pendekatan historis (historical approach), pendekatan filosofis (philosophical approach), pendekatan sosiologis (Sociological approach), dan pendekatan linguistik (linguistical approach). Pendekatan historis dimaksudkan untuk mengetahui sabab nuzul ayat dan relevansinya dengan konteks kekinian. Pendekatan filosofis dimaksudkan untuk menelusuri ayat-ayat secara logis dan radikal dalam lingkup aspek-aspek kefilsafatan, yakni epistemologi, ontologis dan aksiologis. Pendekatan sosiologis dimaksudkan untuk mengetahui kondisi sosial yang melingkupi ketika ayat-ayat al-Quran turun. Dan pendekatan linguistik dimaksudkan untuk memberikan batasan-batasan makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Quran agar tidak menyimpang dalam menafsirkannya.
Data-data yang diperlukan dalam penelitian tafsir tematik dapat berupa 1) ayat-ayat al-Quran, 2) Hadis dan Sunnah Nabi saw, 3) Atsar Sahabat, 4) pendapat para ulama, 5) riwayat kenyataan sejarah di masa turunnya al-Quran, 7) kaidah-kaidah bahasa, 8) kaidah-kaidah istinbath, dan 9) teori-teori ilmu pengetahuan.
Adapun langkah-langkah penyusunan yang dilakukan dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut :
a. menganalisis ayat ke dalam obyek-obyek telaah, seperti kosa kata qurani, frasa qurani, klausa qurani, ayat-ayat qurani, dan hubungan antar bagian-bagian tersebut.
Secara struktural data terdiri dari sebuah kata atau serangkaian kalimat-kalimat sederhana atau kalimat luas (klausa). Pada tingkat lebih bawah terdapat unsur frasa dan kata. Jadi dari sini ditemukan empat unsur yang dapat membentuk sebuah ayat, yaitu kalimat, klausa, frasa, dan kata.
Misalnya analisis terhadap QS al-Nahl (16) : 78
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
1. kosa kata qurani misalnya : اللَّهُ – أَخْرَج – بُطُونِ – تَعْلَمُونَ
2. Frasa qurani misalnya : بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ – لَكُمُ – لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
3. Klausa Qurani misalnya : اللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ- جَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ – لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
4. ayat-ayat di atas, secara utuh dibahas dengan memperhatikan hubungan frasa-fras dan kalusa-klausa yang ada.
5. hubungan ayat tersebut dengan ayat sebelumnya.
b. mencari makna dan konsep yang terkandung dalam kosa kata dan frasa dengan menggunakan tehnik interpretasi semantik, yang mencakup beberapa aspek, antara lain aspek etimologis, morfologis, leksikal, sintaksis, retorik, dan aspek-aspek lainnya.
1. Aspek etimologis dapat dilihat dari kaidah ilmu sharf, misalnya terdapat dalam QS. Al-Tin ( ) : 4
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Kata insan dalam ayat tersebut, manurut akar katanya terdapat beberapa pendapat. Ia bisa berasal dari kata anasa yang berarti ramah, sadar, tahu. Maksudnya manusia memiliki sifat ramah, mempunyai kesadaran serta berpotensi ilmiah. Ia juga bisa berakar pada kata nasiya, yang artinya lupa. Maksudnya manusia disebut insan karena ia memiliki sifat pelupa. Dan ia juga bisa berakar pada kata nus, yang artinya jiwa.
2. Aspek gramatikal dapat dilihat dari kaidah ilmu nahwu. Misalnya QS al-Taubah (9) : 3
وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ
Dalam klausa ayat tersebut terdapat frasa wa rasuluh. Jika kata ini dikonjugasikan kepada lafal musyrikuh, maka makna ayat tersebut “Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan dari rasul-Nya”. Sebaliknya, jika huruf waw tersebut dianggap sebagai huruf pendahuluan, (isti’naf), maka kata rasuluh berkedudukan sebagai subjek (mubtada’). Oleh karena itu, klausa tersebut bermakna “Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasul-Nyapun berlepas diri”. Selanjutnya, dapat diterjemahkan “Allah dan Rasulnya berlepas diri dari orang musyrik”.
3. Aspek retorikal menggunakan kaidah ilmu balaghah yang terdiri dari kaidah-kaidah penggunaan dan penyampaian konsep atau ide (qawaid al-ma’aniy), kaidah penggunaan ungkapan bahasa (qawaid al-bayan) dan kaidah keindahan bahasa (qawaid al-badi’). Misalnya QS al-Rum (30) : 8
وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ
Dalam ayat di atas terdapat tiga fungsi ta’kid, yaitu huruf inna, huruf lam, dan mendahulukan kata yang seharusnya di belakang. Lazimnya, ungkapan yang lazim dalam bahasa Arab adalah :
وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَكَافِرُونَ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ
Adanya ta’kid yang berbilang jumlahnya di atas mengisyaratkan kekafiran orang-orang jahiliah yang sangat keras.
4. Aspek leksikal, menjelaskan makna ayat dengan makna lughawi. Misalnya QS al-Baqarah (2) : 2
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Dalam ayat tersebut, kata rayb diartikan dengan kata syakk
Penafsiran dengan menggunakan tehnik interpretasi semantik yang mencakup beberapa aspek di atas, dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh terhadap makna mufradat al-Quran, sehingga dapat diperoleh masukan untuk analisis lebih lanjut.
c. Mencari makna dan konsep yang terkandung dalam frasa maupun dalam klausa dengan beberapa metode interpretasi, yaitu :
1. Interpretasi Tekstual
Dalam hal ini obyek yang diteliti ditafsirkan dengan menggunakan teks-teks al-Quran ataupun hadis Nabi saw. Dasar penggunaan tehnik ini adalah penegasan al-Quran bahwa ia berfungsi sebagai penjelasan terhadap dirinya sendiri dan tugas Rasul saw. sebagai mubayin terhadap al-Quran.
Interpretasi tekstual menghasilkan konsep yang lebih akurat dibanding dengan natijah interpretasi lainnya. Karena itu tehnik ini dipandang oleh Muhammad Abduh sebagai faktor utama untuk mencapai derajat tafsir utama. Misalnya interpretasi ayat dengan teks ayat al-Quran seperti QS al-Fatihah (1) : 6 ditafsirkan oleh ayat QS al-Fatihah (1) : 7
2. Interpretasi Linguistik
Di sini ayat al-Quran ditafsirkan dengan menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan. Tehnik ini mencakup interpretasi dalam bidang-bidang semantik etimologis, semantik morfologis, semantik leksikal, semantik gramatikal dan semantik retorikal.
Dasar penggunaan tehnik ini adalah kenyataan bahwa al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab seperti yang dikemukakan dalam QS Yunus (12) : 2 dan QS al-Ra’d (13) : 37.
3. Interpretasi sistemik.
Interpretasi sistemik adalah pengambilan makna yang terkandung dalam ayat (termasuk klausa dan frasa) berdasarkan kedudukannya di dalam surahnya. Tegasnya, di sini data itu dianalisis dengan melihat pertautannya dengan ayat-ayat atau bagian lainnya yang ada di sekitarnya atau dengan kedudukannya dalam surah.
Penggunaan tehnik ini mengacu pada kenyataan al-Quran sebagai kitab suci yang memiliki sistematika yang utuh dan padu dan disusun oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.
4. Interpretasi sosio-historis.
Di sini ayat ditafsirkan dengan menggunakan riwayat mengenai kehidupan sosial politik dan kultural bangsa Arab pada saat turunnya al-Quran. Dengan ungkapan lain, ayat ditafsirkan dengan mnggunakan sebab turunnya ayat.
Penggunaan tehnik ini amat terbatas dan cara pemakaiannya diperselisihi para ulama.
3. Interpetasi teleologis.
Dalam hal ini ayat-ayat al-Quran ditafsirkan dengan menggunakan kaidah-kaidah fikih yang pada hakekatnya merupakan rumusan dari filsafat hukum Islam yang secara garis besar menghendaki tercapainya kebahagiaan manusia dengan terwujudnya kesejahteraan dan kedamaian.
Interpretasi seperti ini ditemukan dalam tafsir sahabat seperti Aisyah ketika beliau ditanya tentang wasiat.
4. Interpretasi Kultural
Dalam hal ini, data yang dihadapi ditafsirkan dengan menggunakan pengetahuan yang mapan.
Pemakaian tehnik ini beracu pada asumsi bahwa pengetahuan yang benar tidak bertentangan dengan al-Quran, justru ia dimaksudkan mendukung kebenaran al-Quran.
Tafsir seperti ini ditemukan di antara para sahabat seperti kasus Amru bin Ash dalam kasus perang Salasil.
5. Interpretasi Logis.
Tehnik ini merupakan penggunaan prinsip-prinsip logika dalam memahami kandungan al-Quran. Dalam hal ini, kesimpulan diperoleh dengan cara berpikir logis yakni deduktif atau induktif. Pengambilan kesimpulan demikian dikenal dalam ilmu logika sebagai prinsip inferensi.
Penggunaan tehnik ini beracu pada kenyataan bahwa tafsir pada hakekatnya adalah termasuk kegiatan ilmiah yang memerlukan penalaran ilmiah, dan pada sisi yang lain prinsip-prinsip logika dapat ditemukan dalam kaidah ushul fikih dan ilmu-ilmu al-Quran.
6. Interpretasi Ganda.
Dimaksudkan di sini adalah penggunaan dua atau lebih interpretasi terhadap sebuah obyek. Hal ini dimaksudkan untuk tujuan :
a) Pengayaan
Contohnya adalah interpretasi tekstual (Hadis Rasul) terhadap dua golongan yang disebutkan dalam akhir surah al-Fatihah berbeda dengan hasil interpretasi sistemik. Tafsir tekstual menunjuk bahwa tiga golongan yang dimaksud itu adalah orang-orang Yahudi dan Nashrani. Sedangkan interpretasi sistemik menunjuk bahwa yang dimaksud adalah orang-orang munafik dan orang-orang kafir.
b) Kontrol dan verifikasi terhadap hasil interpretasi.
Sebagai contoh, tafsir kata السارق dalam QS al-Maidah (5) : 38. dilihat dari sudut interpretasi sistemik morfologis, kata itu adalah isim fa’il yang memberi pengertian sifat pelaku, sehingga dapat dipahami bahwa yang dijatuhi hukum potong tangan adalah mereka yang memiliki sifat pencuri. Tetapi dengan memperhatikan hadis Nabi saw. maka yang dimaksud adalah orang yang telah mencuri, meskipun perbuatan mencuri itu belum menjadi sifatnya.
Demikian langkah-langkah yang harus ditempuh dalam penulisan hasil penelitian tafsir, khususnya tafsir maudhu’iy (tafsir tematik). Dengan langkah-langkah seperti ini maka diharapkan hasil yang dicapai dapat dilakukan secara maksimal.
Penutup
Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Metode tematik dibangun di atas prinsip istanthiq al-Qur’an (ajaklah al-Quran berbicara atau biarkan ia menguraikan isinya). Juga atas dasar al-Qur’an yufassir ba’duhu ba’dan (al-Quran itu, bagian-bagiannya saling menafsirkan)
2. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam penelitian tafsir adalah pendekatan historis (historical approach), pendekatan filosofis (philosophical approach), pendekatan sosiologis (Sociological approach), dan pendekatan linguistik (linguistical approach)
3. Sedangkan tehnik interpretasi yang dapat digunakan adalah interpretasi tekstual, interpretasi linguistik, interpretasi sistemik, interpretasi sosio-historis, interpretasi telelologis, interpretasi kultural, interpretasi logis dan interpretasi ganda.

DAFTAR PUSTAKA

Baidan, Nashiruddin Metodologi Penafsiran al-Qur’an Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000
Ibnu Zakariya, Ibnu Faris Mu’jam Maqayis al-Lughah, jilid I dan IV Beirut: Dar al-Fikr, 1979
Salim, Abdul Muin. Metode Penelitian Tafsir Ujungpandang: IAIN Alauddin, 1994
———–. Model-model Tafsir dalam al-Quran dan Penerapannya Makassar: Pusat Penelitian IAIN Alauddin, 2000
Shihab, M. Quraish. Membumikan al-Quran Bandung: Mizan, 1995
Shihab, Umar. Kontekstualitas al-Quran Jakarta: Panamadani, 2003
Supiana dan M. Karman, Ulumul Quran dan Pengenalan Metodologi Tafsir (td.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: