HUBUNGAN IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

HUBUNGAN ISLAM, IMAN, DAN IHSAN

حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ …. وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ….
Artinya:
Umar Bin Khattab ra. Berkata “Suatu hari kami duduk-duduk di samping Rasulullah, tiba-tiba datang seorang laki-laki…. Dan berkata” Ya Muhammad, beritahulah saya mengenai Islam” Rasulullah saw. menjawab, Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kemudian mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan melakukan haji jika kamu mampu. Laki-laki itupun berkata, Engkau benar.’ Kami heran dengan tingkah lakunya karena dia bertanya kepada Nabi saw tetapi membenarkan jawaban beliau. Kemudian dia berkata lagi kepada Nabi, ‘beritahulah saya mengenai iman, ‘Beliau menjawab Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir baik dan buruk. Dia berkata ‘Engkau benar’. Laki-laki itu berkata lagi Beritahulah saya tentang ihsan, Nabi saw pumn menjawab Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya. Apabila kamu tidak mampu melihatnya, yakinlah bahwa Allah melihat kamu…. (HR. Muslim)

Hadis tersebut di atas menceritakan dialog antara Nabi Muhammad saw. dan Malaikat Jibril tentang trilogi ajaran ilahi, yaitu Islam, iman , dan ihsan. Hadis ini memberikan ide kepada umat Islam sunni tentang rukun iman yang enam, rukun Islam yang lima, dan penghayatan terhadap Tuhan Yang maha hadir dalam hidup. Ketiga hal tersebut dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Antara yang satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan.
Setiap pemeluk agama Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam tidak absah tanpa iman, dan iman tidak sempurna tanpa ihsan. Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga mustahil tanpa Islam. Jadi, ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Apabila seseorang sudah muslim berarti ia juga sekaligus mukmin dan muhsin.
Pendapat berbeda dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah. Menurut Ibnu Taimiah hadis tersebut di atas menunjukkan bahwa Islam, iman dan ihsan adalah tiga unsur dari din (agama) yang mengandung makna tingkatan keberagamaan seseorang : orang mulai dengan Islam, kemudian berkembang ke arah iman, dan memuncak dalam ihsan. Ia merujukkan pendapatnya itu pada surah Fathir (35)ayat 32:
                       
32. Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan[1260] dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

[1260] yang dimaksud dengan Orang yang menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, dan pertengahan ialah orang-orang yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan.

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa tingkatan pertama adalah orang-orang yang menerima warisan kitab suci dengan mempercayai dan berpegang teguh pada ajaran-ajrannya, namun masih melakukan perbuatan-perbuatan zalim, adalah orang yang baru ber-Islam, kedua; orang yang menerima kitab suci, telah terbebas dari perbuatan zalim namun perbuatan kebajikannya sedang-sedang saja, mereka sudah meningkat ke golongan mukmin (tingkatan menengah); dan ketiga mukmin yang telah terbebas dari perbiatan zalim dan senantiasa menjadi pelomba dan semata-mata hanya melakukan kebajikan maka ia mencapai derajat ihsan, maka ia akan masuk surga tanpa mengalami azab. Dengan kata lain, Islam adalah mabda’ (permulaan); iman adalah menengah (wasath); dan ihsan adalah kesempurnaan (al-kamal).

Dalam hadis tersebut di atas Nabi saw menjelaskan tiga hal pokok yang ditanyakan oleh Jibril as., yaitu iman, islam, dan ihsan. Kata iman bersal dari kata amana yu’minu, artinya percaya atau yakin. Iman adalah pengakuan dalam jiwa atau perbuatan hati. Kalimat “kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya dan Kitab-kitab-Nya,” maksudnya adalah mempercayai dan meyakini keberadaan Allah Yang Maha suci dan mempunyai sifat keagungan, kesempurnaan, dan suci dari sifat-sifat kekurangan (QS. Al-Syura:11). Dialah yang Mahaesa, Yang Hak (benar) sebagai tempat bergantung. Dialah yang tunggal dan pencipta semua makhluk. Dia melakukan apa saja yang dikehendakinya serta berbuat apa saja yang diingini-Nya atas milik-Nya.
Beriman kepada para malaikat adalah membenarkan eksistensi mereka bahwasanya mereka adalah para hamba yang mulia (QS. Al-anbiya:26). Tidak akan mendahului ucapan Allah, serta selalu melakukan perintah-perintah-Nya (QS. Al-AlTahrim:6). Didahulukannya iman kepada malaikat atas iman kepada kitab-kitab dan rasul-Nya mempertimbangkan dari segi urutan (li al-tartib). Sebab Allah mengutusa malaikat dengan membawa kitab untuk para Rasul-Nya. Iman kepada kitab-kitab Allah berarti membenarkan bahwa kitab-kitab tersebut adalah firman Allah, isinya adalah hak, mengajak umat menuju kesuksesan dan kebaikan, kemenangan dan kebahagiaan Beriman kepada para Rasul-Nya berarti membenarkan bahwa para rasul merupakan orang-orang yang jujur dalam menyampaikan khabar dari Allah swt.. mereka dikuatkan dengan mukjizat yang menunjukkan kejujuran mereka dan membenarkan bahwa mereka menyampaikan risalah-risalah dari Allah dan menjelaskan kepada orang-orang mukalaf apa-apa yang diperintahkan Allah. Mukalaf diwajibkan menghormati mereka tanpa membedakan antara rasul dengan lainnya. Di samping itu, juga mengimani bahwa Muhammad saw adalah penutup para nabi dan rasul (Qs. Al-Ahzab:40). Juga mengimani bahwa risalah yang dibawanya adalah abadi dan berlaku secara umum bagi seluruh manusia.
Beriman kepada hari akhir artinya membenarkan keberadaan hari kiamat dan segala sesuatu yang menjadi rangkaian kiamat, seperti hari kebangkitan, hari dikumpulkan pada satu tempat ketika Allah swt. menghidupkan orang setelah mati, hari perhitungan amal, timbangan amal, sirat (jembatan), serta surga dan neraka yang merupakan tempat balasan amal seseorang.
Beriman kepada takdir, artinya bahwa Allah swt mengetahui kadar dan masa segala sesuatu sebelum diciptakan.
Menurut Ibnu al-Batthal al-Maliki, iman bisa bertambah dan berkurang sebagaimana firman Allah QS. Al-Fath: 4         •            
4. Dia-lah yang Telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang Telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi[1394] dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,

Amal perbuatan bisa menjadikan iman bertambah dan berkurang. Demikian juga bertambah dan berkurangnya iman disebabkan amal perbuatan. Pembenaran hati bisa bertambah karena sering menganalisis suatu persoalan dengan landasan dalil-dalil yang bersifat lahiria. Oleh karena itu, iman orang-orang yang bersifat jujur dan dapat dipercaya lebih kuat. Hati mereka tidak dihadapkan pada persoalan yang belum jelas. Imannya sahabat Abu Bakar ra. terhadap Islam atau Nabi Muhammad saw. tentu memiliki perbedaan dengan pembenaran hati manusia lainnya. Imam Bukhari menjelaskan bahwa Ibnu Abi Mulaikah mengatakan “ Saya telah menjumpai tiga puluh orang laki-laki dari sahabt. Di antara mereka tidak seorang pun yang pernah berkata bahwa imannya senilai dengan imannya Jibril as. Dan Mikail as.
Adapun kata Islam berasal dari kata aslama yang berarti tunduk, patuh, atau tindakan penyerahan diri seseorang sepenuhnya kepada kehendak orang lain. Dalam hadis ini Nabi menyebutkan bahwa islam itu adalah mengucapkan dua kalimah syahadat. Mendirikan shalat, berpuasa, mengeluarkan zakat, dan berhaji ke Baitullah.
Syahadat, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, adalah pokok keislaman karena di dalamnya disebutkan ciri-ciri Islam yang paling jelas. Di samping itu, syahadat merupakan rukun Islam yang paling utama. Dengan syahadat pula, keislaman seseorang bisa dianggap sah. Salat adalah perbuatan yang mencerminkan hubungan seorang hamba dengan sang pencipta. Zakat mencerminkan hubungan luhur dalam tolong menolong dan kerja sama, hubungan seorang muslim terhadap saudaranya yang miskin. Puasa mengantarkan seorang muslim ke derajat muttaqin menggapai ridhanya, dan nilai keikhlasan baik secara rahasia maupun terang-terangan, dan ibadah haji yang mencakup ibadah fisik jasmaniah dan materi merupakan simbol muktamar Islam terbesar, di mana kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia islam berkumpul untuk memusyawarahkan permasalahan dunia dan akhirat.
Bila hadis di atas dicermati secara mendalam, dipahami bahwa Islam itu adalah terletak dalam perbuatan, baik perbuatan lisan (ucapan) maupun perbuatan anggota tubuh. Islam (tunduk dan patuh) merupakan realisasi dari iman (percaya dan yakin)yang ada dalam hati.
Kata Islam bisa juga mencakup pengertian dasar iman demikian pula sebaliknya, karena kepatuhan merupakan hasil dari pembenaran sebagai dasar iman. Menurut Ibnu Shalah, Iman dan Islam terkadang bisa bersatu dan terkadang tidak. Setiap orang yang beriman (mukmin) merupakan seorang muslim. Akan tetapi, tidak setiap muslim adalah mukmin. Firman Allah dalam QS. Al-Hujurat (49): 14

   •                        •    
14. Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami Telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami Telah tunduk’, Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa muslim belum tentu merupakan mukmin, karena muslim baru merupakan langkah yang paling awal untuk mencapai mukmin. Muslim adalah suatu kepercayaan dangkal yang belum merasuk dalam ke dalam hati.

Dengan demikian, seorang muslim yang melakukan dosa besar atau meninggalkan kewajiban tidak dapat disebut sebagai mukmin yang sempurna. Bahkan, seseorang yang melakukan satu perbuatan dosa pun bisa dikategorikan orang yang tidak sempurna keimanannya, seperti dalam hadis sebagai berikut:

“Seorang pezina tidak akan berbuat zina, manakala dia dalam keadaan beriman dan begitu juga seorang pencuri tidak akan mencuri manakala dia dalam keadaan beriman (HR. Ibnu majah)
Adapun Ihsan (kebaikan) dijelaskan dengan kalimat “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya dan jika engkau tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Pengertian ini akan menuntun seorang mukmin untuk selalu menghadirkan Allah dalam hatinya, bahwa Allah senantiasa mengawasi segala tingkah laku dan gerak-geriknya. Dengan demikian ia akan takut untuk melalukan keburukan dan kezaliman karena adanya keyakinan dalam hati bahwa Allah melihatnya dan pada akhirnya semua perbuatannya yang timbul adalah kebaikan semata dan mencapai derajat muhsin.
Dalam hadis riwayat imam Bukhari tersebut di atas, penyebutan iman didahulukan atas Islam karena iman adalah dasar sedang Islam adalah pembenaran secara lahiriah atas pengakuan imannya. Adapun penyebutan ihsan pada posisi ketiga karena ihsan bergantung kepada iman dan Islam. Dalam riwayat yang lain, yaitu riwayat Imam Muslim penyebutan Islam didahulukan atas iman dikarenakan islam adalah perkara lahir sedang iman adalah perkara batin. Bahkan dalam sebagian riwayat lain dimulai dengan penyebutan islam, kemudian ihsan, lalu iman.
Perbedaan penyebutan urutan tiga unsur tersebut bukanlah suatu yang mendasar. Hal ini disebabkan adanya periwayatan secara makna.
Pada dasarnya penyebutan Islam terkadang menempati pengertian iman dan begitu pula sebaliknya. Sebagaimana dalam hadis tentang utusan Abdul Qais tatkala rasulullah bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian apakah iman itu ?. Mereka menjawab Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu. Kemudian rasulullah bersabda, Iman adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan hendaklah kalian membayar seperlima dari ghanimah.”
Contoh lain seperti dalam QS. Al-Iman (3):19 “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanya Islam.
Dalam hadis tentang pertanyaan Rasulullah kepada utusan Abdul Qais di atas penyebutan iman dimutlakkan dengan Islam. Adapun Islam dalam ayat di atas adalah Islam dalam arti pembenaran (tashdiq) dan amal, yang berarti identik dengan defenisi iman; sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam riwayat Ibnu majah, “Iman itu adalah mengetahui dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan beramal dengan nyata.”
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa unsur islam, iman, dan ihsan bila dilihat dari segi essensinya ketiganya tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat diurai. Namun, bila dilihat dari segi penjengjangan atau tingkatan keberagamaan maka diawali dengan muslim, mukmin, lalu muhsin.

**Sumber Syarah Hadis Arbain karya an-Nawawi dan Metodologi Studi Islam karya Atang Abd Hakim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: