MENGENAL MUSNAD AHMAD

MENGENAL MUSNAD AHMAD IBN HANBAL
oleh: Rustina N

A. Pendahuluan
Berbeda dengan Alquran yang telah ditulis sejak ia nuzul atas perintah Nabi, Hadis tidaklah demikian keadaannya. Hadis tidak ditulis secara resmi pada saat Alquran ditulis. Bahkan Nabi sendiri melarang sahabat untuk menulis hadis beliau. Meskipun ada beberapa catatan-catatan hadis pada masa Nabi, tetapi itu hanya dimiliki oleh beberapa orang sahabat dan dilakukan atas inisiatif mereka masing-masing. Keadaan demikian menjadikan hadis Nabi dalam perjalanan sejarah banyak mengalami pencemaran dan pemalsuan.
Hadis-hadis Nabi saw. baru dikumpulkan dan ditulis secara resmi dan massal pada abad II H, masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abd al-Aziz (w.101 H). Momentumnya adalah ketika khalifah ketujuh dari Dinasti Umayyah ini mengeluarkan surat perintah resmi kepada para gubernur dan ulama hadis untuk melakukan penghimpunan (kodifikasi) terhadap hadis-hadis Nabi saw.
Instruksi Khalifah tersebut dilaksanakan oleh seorang ulama besar Hijaz, Ibnu Syihab al-Zuhriy dan berhasil menyusun suatu kodifikasi hadis yang kemudian disebar ke daerah-daerah untuk dijadikan sebagai referensi kodifikasi selanjutnya.
Pada masa selanjutnya, ulama-ulama giat melaksakan kegiatan serupa. Penghimpunan hadis marak dilakukan dan mencapai puncaknya pada abad III H. Pada masa ini banyak kitab-kitab hadis yang telah disusun oleh ulama. Bahkan juga telah muncul kodifikasi metodologis yang dipelopori oleh al-Bukhari (w.256 H) dan Muslim (w.261 H).
Salah seorang ulama yang giat menghimpung hadis pada masa ini adalah Ahmad ibn Hanbal. Ia melakukan lawatan ke berbagai daerah (sebagaimana umumnya dilakukan oleh ulama pencari hadis) untuk mencari hadis. Hasil kerja Ahmad tersebut sampai sekarang dapat kita jumpai dalam kitab bernama Musnad Ahmad ibn Hanbal yang memuat sekitar 40.000 hadis.
Yang menarik dari musnad ini adalah hadis-hadis yang termuat di dalamnya tidak ditulis langsung oleh Imam Ahmad sendiri, melainkan oleh anaknya, Abdullah. Di samping itu, kitab ini juga dinilai oleh mayoritas ulama memuat hadis-hadis yang dinilai dhaif, bahkan maudhu’. padahal Ahmad bin Hanbal dikenal juga sebagai seorang fakih, mujtahid dan pendiri mazhab Hanbaliy. di mana seorang fakih atau mujtahid tentu sangat selektif dalam menerima dan mempergunakan hadis sebagai dasar suatu pendapat.
Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis mengemukakan suatu permasalah untuk dibahas yaitu? Bagaimanakah pendapat ulama tentang kualitas hadis-hadis dalam Musnad Ahmad. Pembahasan dilakukan dengan mendeskripsikan terlebih dahulu Musnad Ahmad bin Hanbal tersebut.

B. Karakteristik Kitab Musnad
Musnad jamaknya masanid, secara etimologis berarti tempat bersandar. Pengertian musnad secara terminologis, menurut Subhi al-Shalih musnad adalah kitab yang hadis-hadis di dalamnya disebutkan sesuai nama sahabat, baik menurut cepatnya masuk Islam atau menurut nasab. Sedangkan menurut al-Mubarakfury, musnad adalah kitab yang menyebutkan hadis-hadis sesuai dengan urutan nama sahabat periwayatnya, baik secara alfabetis, menurut urutan yang pertama masuk Islam, ataupun menurut kemuliaan nasab.
Dua pengertian tersebut di atas menyebutkan tiga dasar perurutan nama sahabat dalam kitab musnad, yaitu berdasarkan cepatnya masuk Islam, berdasarkan urutan huruf hijaiyah nama awal, dan berdasarkan kemuliaan nasab.
Pengertian musnad dikemukakan pula oleh M. Syuhudi Ismail, yaitu kitab-kitab hadis yang oleh penyusunnya hadis-hadis itu disusun berdasarkan nama sahabat periwayat hadis bersangkutan. Penentuan urutan nama sahabat dalam kitab-kitab musnad berbeda-beda menurut kriteria penulisnya masing-masing, di antaranya berdasarkan: a) Urutan nama sahabat yang mula-mula masuk Islam; dimulai dengan urutan nama-nama sepuluh orang sahabat yang mula-mula masuk Islam, disusul nama-nama sahabat yang memeluk Islam selanjutnya; b) Urutan huruf hijaiyah; c) Urutan nama qabilah, dimulai dengan Bani Hasyim, kemudian kelompok keluarga yang makin mendekat dengan nasab Rasulullah; c)Urutan nama sahabat yang kemudian terbagi-bagi lagi kepada bab-bab fiqhi, Musnad yang termasuk kategori ini, misalnya kitab Musnad al-Kabir oleh Baqy bin Makhlad al-Qurthubiy.
Kitab ini menghimpung hadis yang berkenaan dengan aqidah, perintah-perintah dan larangan, etika, dan segala persoalan keagamaan lainnya.
Metode penyusunan hadis sebagaimana dalam kitab musnad ini memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangannya adalah jika seseorang ingin mencari hadis dengan hanya mengetahui topik atau matannya tanpa mengetahui sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut, maka ia akan menemui kesulitan untuk mendapatkan hadis tersebut. Adapun kelebihan kitab musnad ini adalah jika seseorang ingin mengetahui fiqhi seorang sahabat, maka ia cukup merujuk kepada musnadnya. Misalnya, orang yang ingin mengetahui fiqhi Umar ra., maka ia dapat menemukannya dalam musnad Umar, begitu pula riwayt-riwayatnya, fatwa-fatwanya, atau hukum-hukum yang ditetapkannya. Kekurangan kitab musnad ini dapat diatasi sekarang dengan adanya kitab mu’jam hadis.
Mengenai kualitas kitab Musnad ini, tampaknya ia berada di bawah al-kutub al-khamsah (lima kitab standar), sebab hadis-hadis yang termaktub dalam musnad tidak diseleksi kualitasnya secara ketat oleh penyusunnya terlebih dahulu, sehingga kitab ini menghimpun hadis-hadis Nabi yang kualitasnya shahih, hasan , dan dhaif, gharib, syadz, munkar dan sebagainya. Oleh karena itu, hadis-hadis dari kitab-kitab al-masanid haruslah terlebih dahulu diteliti dengan baik sanad dan matannya agar terhindar dari penggunaan hujjah yang tidak memenuhi syarat.
Kitab musnad banyak jumlahnya. Di antaranya adalah Musnad susunan Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Musnad susunan Ibnu Abi Usamah (w. 282 H), Musnad susunan Abu Syaebah (w. 235 H), Musnad susunan Abu ‘Ashim al-Syaebaniy (w. 288 H), Musnad susunan Abi Rahawaih (w.238), Musnad Abi Dawud al-Thayalisiy (w. 204 H), Musnad Ibnu Abbas al-Naisaburiy (w. 213 H).
Orang yang pertama menyusun kitab musnad adalah Abu Dawud al-Thayalisiy (w. 204 H). Al-Kattaniy menyebutkan bahwa jumlah kitab musnad lebih dari 82 kitab. Sedangkan al-Thahhan menyatakan bahwa kitab musnad ada sekitar 100 kitab.

C. Biografi Ahmad bin Hanbal
Ahmad bin Hanbal adalah seorang mujtahid pendiri mazhab dan ahli hadis kenamaan yang dijuluki dengan gelar Imam Ahl al-Sunnah. Nama lengkapnya Ahmad ibnu Muhammad ibn Hanbal bin Hilal bin Asad al-Syaibaniy al-Maruzi. Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H dari keluarga Arab. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Nizar ibn Adnan. Ayahnya, Muhammad ibn Hanbal yang terkenal sebagai pejuang meninggal dunia pada waktu Ahmad bin Hanbal masih kecil. Kemudian ia dipelihara oleh ibunya dan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sambil belajar Ahmad bekerja mencari nafkah.
Ahmad telah hafal Alquran sejak kecil dan terkenal sungguh-sungguh dalam mempelajari suatu cabang pengetahuan. Ia berguru kepada Abu Yusuf ibn Ibrahim, seorang hakim dan ahli hukum terkenal sebagai sahabat dan murid Abu Hanifah. Ia juga belajar fiqhi secara mendalam kepada imam mujtahid, pendiri mazhab, Muhammad ibn Idris al-Syafi’iy. Namun, suasana lingkungan membuat ia cenderung untuk lebih mendalami ilmu-ilmu hadis.
Ahmad bin Hanbal kemudian berangkat ke Bashrah. Di sini ia berguru antara lain kepada Syekh Hasyim ibn Basyir ibn Abi Hazim al-Wasitiy, seorang tokoh ahli hadis di negeri itu. Kemudian ia mengadakan perlawatan ilmiah ke beberapa negeri, seperti Mekkah, Madinah, Syam, dan Kufah. Di negeri-negeri yang dikunjunginya itu ia sempat lebih mendalamai ilmu-ilmu hadis, sehingga lebih populer disebagai sebagai al-Muhaddis.
Walaupun termasuk golongan ulama-ulama mujtahidin pendiri suatu mazhab, pemikiran-pemikiran dan fatwa-fatwanya tidak sempat ia tulis di masa hidupnya. Ia lebih tertarik menulis hadis. Kitabnya yang terkenal di bidang hadis ialah al-Musnad. Banyak ulama hadis terkenal yang meriwayatkan hadis darinya, seperti Imam Bukhari, dan Imam Muslim. Bahkan di antara gurunya ada pula yang meriwayatkan hadis dari padanya, seperti Imam Syafi’I dan Waki’. Bahkan Imam Syafi’i berpegang kepada penilaian Ahmad bin Hanbal tentang keshahihan suatu hadis.
Pikiran-pikiran dan fatwa-fatwa Ahmad bin Hanbal telah berhasil dihimpun oleh sebagian sahabat dan murid-muridnya. Di antaranya adalah Ahmad ibn Muhammad al-Kahalal yang menulis kitab al-Jami’ al-Kabir dalam dua jilid yang merupakan kumpulan pemikiran dan fatwa Ahmad bin Hanbal. Kitab lain dalam mazhabnya yang sangat populer sampai saat ini adalah kitab al-Mughni oleh Ibnu Qudamah (541-620H).
Imam Ahmad bin Hanbal hidup pada pertengahan masa Dinasti Abbasiyah, di saat aliran Mu’tazilah memperoleh sukses besar menjadi mazhab resmi negara pada masa al-Makmun, al-Mu’tazim dan al-Wasiq. Aliran pemahaman agama secara rasional ini telah mendapat tanggapan serius dari berbagai kalangan dan menimbulkan kelompok pro dan kontra. Ahmad bin Hanbal adalah pemimpin aliran tradisional yang paling keras menentangnya. Sikap kerasnya menolak khlaq al-Qur’an (Alquran adalah makhluk) dan bahkan berani mengecam al-Makmun atas dukungannya terhadap aliran Mu’tazilah mengakibatkan dirinya mendapat kesulitan. Ia berulangkali ditangkap dan dipenjarakan sampai masa al-Mutawakkil.
Ahmad bin Hanbal wafat pada tahun 241 H di Baghdad, tanah tempat kelahirannya dengan meninggalkan dua orang anak, yaitu Shalih (w. 266H) dan Abdullah (w.290 H). Karya-karyanya antara lain Kitab al-‘Ilal, al-Zuhud, al-Tafsir, Nasikh wa al-Mansukh, dan fadhail al-Shahabat.

D. Gambaran Isi dan Sistematika Musnad Ahmad
Musnad karya Ahmad bin Hanbal ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1313 H di Mesir dalam bentuk enam jilid besar, kemudian ditahqiq oleh Ahmad Muhammad Syakir dalam bentuk lima belas jilid. Setiap jilid Musnad ini terdiri dari 400 sampai 500 lebih halaman, berhasyiyah Muntakhab Kanz al-Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al karya Syeikh ‘Ala al-Din ‘Ali bin Hisam al-Din yang lebih dikenal dengan nama al-Muttaqiy al-Hindiy.
Menurut hasil penelitian Nashir al-Din al-Albaniy, Musnad Ahmad memuat sebanyak 904 nama-nama sahabat. Nama-nama sahabat tersebut oleh al-Albaniy disusun dengan baik dalam daftar berdasarkan urutan abjad, kemudian diberi keterangan tentang letaknya pada juz dan halaman berapa nama-nama sahabat tersebut terletak. Daftar ini terdapat di Musnad Jilid 1 halam 2. Karya al-Albaniy ini sangat besar manfaatnya bagi pencari hadis-hadis dalam Musnad Ahmad.
Daftar isi yang memuat nama-nama sahabat yang memiliki musnad dan hadis yang termaktub dalam musnad ditemukan di setiap jilid pada bagian akhir sebelum daftar isi khasyiyah. Di mulai dengan nama sepuluh sahabat yang telah dijamin masuk surga, yakni Abu Bakar, Umar bin al-Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaydillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zayd bin Amr bin Nufayl, Abd al-rahman bin Auf, dan Abu Ubaydah bin al-Jarrah (nama aslinya Amir bin Abdillah).
Setelah kesepuluh nama di atas, lalu disusul dengan nama Abd al-Rahman bin Abi Bakr, kemudian Zayd bin Kharijah, al-Hars bin Khuzamat, Saad Mawla Abi Bakar, kemudian disusul nama-nama sahabat ahlu bayt, kemudian nama-nama para sahabat lainnya, dan terakhir adalah Syidad bin al-Hadi.
Para sahabat periwayat hadis yang termaktub dalam Musnad Ahmad, ada yang sedikit dan ada yang banyak jumlah hadis yang diriwayatkannya. Abu Hurairah misalnya, memiliki ratusan hadis yang diriwayatkannya, sedang Zayd bin Khaijat hanya meriwayatkan sebuah hadis saja, baik sanad maupun matannya.
Tentang sistematika Musnad Ahmad, seorang ulama Mesir abad XIV H bernama Syeikh Ahmad bin Abd al-Rahman al-Banna, terkenal dengan sebutan al-Sya’aty, telah berjasa besar dalam mengelompokkan hadis Musnad ke dalam pembahasan tematis. Pengelompokan ini kemudian dinamakan al-Fath al-Rabbaniy li Tartib Musnad bin Hanbal al-Syaibaniy dengan perincian sebagai berikut: pertama, tauhid dan ushuluddin; kedua, fikih yang dibagi dalam empat sub bagian, yaitu ibadah, muamalat, al-aqdhiyah, ahkam, ahwal al-syakhshiyyat, dan adat; ketiga, tafsir Alquran; keempat, al-targhib; kelima, al-tarhib; keenam, sejarah awal dan kemegahan khilafah Abbasiyah; ketujuh, keadaan hari akhirat.

E. Sejarah Penyusunan Musnad Ahmad
Ahmad mulai menyusun kitabnya pada saat pertama kali menerima dan meriwayatkan hadis, ketika berusia 16 tahun. Oleh karena itu, ulama menetapkan bahwa ia mulai menyusun kitab ini pada tahun 180 H, sebab pada tahun inilah ia mulai pergi mecari hadis, sebagaimana dalam kitabnya al-Minhaj, ia berkata bahwa kitab ini dimulai tahun 180 H.
Penyusunan kitab ini berlangsung terus selama hidupnya, tetapi tidak mengarah kepada penertiban atau pemberian bab. Ia hanya mengumpulkan dan menyusunnya, lalu diperbaiki dan ditahqiq (diteliti) para periwayatnya serta membandingkannya dari segi kekuatan dan kedhaifannya. Oleh karena itu, susunannya berserakan di berbagai lembaran hingga ia tua. Anaknyalah yang mengumpulkannya, sedangkan Ahmad mendiktekan kepadanya sekalipun tidak tertib.
Tentang hal ini, al-Jazary berkata bahwa sesungguhnya Imam Ahmad ketika mulai mengumpulkan sanad ia menulisnya di lembaran-lembaran yang belum disusun hingga masa tuanya, kemudian ia mulai memperdengarkan kepada anak-anak dan keluarganya dan wafat sebelum ia memperbaikinya. Anaknyalah kemudia, yaitu Abdullah yang menyusun dan menambahkan riwayat-riwayat yang menyerupainya. Jadi, musnad yang kita dapatkan sekarang, adalah kitab yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad yang dikenal di kalangan ulama sebagai orang yang paling banyak meriwayatkan hadis dari ayahnya.

F. Metode Periwayatan Ahmad
Metode Ahmad dalam meriwayatkan hadis adalah sebagai berikut:
1. Mendahulukan hadis dari orang tsiqah dan dhabit, tetapi ia tetap menerima hadis dari orang takwa yang kurang dhabit jika dalam masalah itu tidak ada hadis yang lain.
2. Ia hanya menerima hadis shahih (bersambung sanadnya) dan menolak hadis mursal (terputus sanadnya pada tingkat thabi’in atau tingkat sesudahnya). Ia menganggap hadis seperti ini hadis dhaif yang tidak boleh diamalkan kecuali jika tak ada hadis lain, karena menurutnya, mengamalkan hadis dhaif lebih didahuluka dari pada pendapat orang.
3. Ahmad mensyaratkan keshahihan matan hadis dengan membandingkannya dengan hadis yang sudah ditetapkan keshahihannya, jika bertentangan maka ditolaknya.
Perlu diketahui bahwa pembagian hadis atas tiga kategori, yaitu shahih, hasan dan dhaif belum dikenal pada masa Ahmad. Menurut Ibnu Taymiyyah, pembagian tersebut baru terjadi pada masa Abu Isa al-Turmudzi. Pada masa Ahmad, pembagian kualitas hadis hanya dua, yaitu hadis shahih dan hadis dhaif, kemudian hadis dhaif terbagi atas dua tingkatan, yaitu hadis dhaif yang tidak dilarang mengamalkannya (setingkat dengan hadis hasan sekarang) dan hadis dhaif yang wajib ditinggalkan.

G. Kuantitas dan Kualitas Hadis dalam Musnad Ahmad
Ulama hadis sepakat tentang jumlah hadis yang termuat dalam musnad Ahmad, yaitu 40.000 hadis. Meskipun demikian, di antara mereka ada yang mengatakan bahwa di antara 40.000 hadis tersebut, ada 10.000 hadis yang berulang dan 10.000 hadis pula yang diidentifikasi berasal dari puteranya, Abdullah.
Adapun kualitas hadis dalam musnad Ahmad ini, komentar ulama berbeda-beda. Mushtafa al-Siba’iy membagi pendapat itu ke dalam tiga kelompok, yaitu
1) Kelompok pertama, di antaranya Ibnu al-Madiniy, berpendapat bahwa semua yang terdapat dalam musnad boleh dipakai berhujjah dan semuanya adalah shahih berdasarkan pernyataan Imam Ahmad dalam musnadnya bahwa jika kamu berselisih paham tentang hadis Rasulullah saw. maka kembalilah ke musnad, jika kamu dapatkan di dalamnya maka ambillah , jika tidak maka bukan hujjah.
2) Kelompok kedua, berpendapat bahwa di dalam musnad Ahmad terdapat hadis shahih dan dhaif, bahkan maudhu’. Pendapat tersebut dipegang oleh Ibnu al-Jauziy yang menyebutkan 29 hadis di dalam kitab mauhu’nya bersumber dari musnad Ahmad. Kemudian al-Iraqiy menambahkan lagi 9 hadis dari musnad Ahmad ini yang dianggapnya maudhu’ dan menolak pendapat bahwa Imam Ahmad memberikan syarat shahih dalam musnadnya. Al-Iraqiy juga menjelaskan bahwa ucapan Ahmad bahwa yang tidak ada dalam musnad itu tidak boleh dijadikan hujjah, tidak berarti bahwa semua yang ada dalam musnad boleh dijadikan hujjah.
3) Kelompok ketiga, mereka yang mengambil jalan tengah, berpendapat bahwa dalam musnad terdapat hadis shahih dan dhaif yang mendekati hadis hasan. Mereka yang berpendapat seperti ini di antaranya adalah al-Dzahabiy, Ibnu Hajar, Ibnu Taymiyyah dan al-Suyuthiy. Mereka membantah anggapan Ibnu al-Jauziy dan al-Iraqiy bahwa di dalam kitab musnad terdapat hadis maudhu’. Ibnu Taymiyah menyatakan bahwa hadis yang tertuduh palsu (maudhu’) dengan alasan karena dalam sanadnya ada periwayat yang dusta tidaklah ada, tetapi bila dinyatakan bahwa ada hadis ternyata tidak pernah disabdkan oleh Rasulullah karena adanya periwayat yang suka salah dalam meriwayatkan hadis, maka yang seperti itu banyak, sebagaimana juga banyak terdapat dalam kitab-kitab sunan. Menurut Ibnu Taymiyyah, Imam Ahmad sesungguhnya telah berusaha keras menjelaskan kualitas hadis-hadis dhaif yang pernah sampai kepadanya. Akan tetapi kemudian, anaknya, Abdullah serta Abu Bakr Ahmad bin Hamdan bin Malik al-Qathi’I, telah banyak memasukkan hadis-hadis palsu dalam musnad Ahamd.
Ibnu Hajar al-Asqalaniy juga memberikan pernyataan secara umum bahwa hadis-hadis yang termaktub dalam Musnad Abi Hanifah, Musnad al-Syafi’iy, dan Musnad Ahmad semuanya memiliki sanad yang sampai kepada Nabi kecuali hanya sekitar tiga atau empat hadis saja yang tidak sampai kepada Nabi.
Mencermati pendapat-pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa mayoritas ulama sependapat bahwa dalam Musnad Ahmad ada hadis shahih dan tidak shahih atau dhaif, (atau bahkan maudhu’). Oleh Ahmad, sebenarnya hadis-hadis yang diterimanya itu telah ia saring untuk mengetahui mengetahui kualitasnya, dan hadis dhaif yag diambilnya adalah yang tidak bertengtangan dengan hadis shahih atau periwayatnya tidak terlalu lemah. Adanya hadis yang parah kedhaifannya atau maudhu karena akibat kelalailan anaknya, Abdullah dan al-Qathi’iy yang memasukkan hadis tersebut ke dalam musnad.
Oleh karena itu, seseorang ketika menghadapi hadis-hadis riwayat Ahmad yang akan dipegang sebagai dalil untuk kepentingan ilmiyah maupun dakwah hendaknya bersikap hati-hati dengan meneliti terlebih dahulu sanad dan matannya. Terlebih lagi bila hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh imam Ahmad sendiri atau tidak ada mukharrij lain yang meriwayatkannya.
Keberadaan hadis dhaif dalam musnad Ahmad ini pada dasarnya berkaitan dengan sikap Ahmad sendiri terhadap hadis dhaif tersebut. Bagi Ahmad hadis dhaif itu lebih patut dikedepankan dari pada hasil pendapat (pemikiran akal ) seseorang. Ia lebih menghargai hadis daripada suatu pendapat, qiyas, fatwa sahabat atau hasil rasio.
Di samping itu, Ahmad bin Hanbal juga diketahui sebagai imam mujtahid yang membolehkan mempergunakan hadis dhaif sebagai hujjah dalam hal fadhail al-‘amal (amalan-amalan utama) atau penjelasan tentang faidah atau kegunaan suatu amalan, bukan dalam hal yang berkaitan dengan hukum suatu perbuatan. Demikian juga bila dilihat dari sejarah perkembangan Ulum al-Hadis, pada masa Ahmad, istilah untuk kualitas hadis hanya dikenal atas dua tingkatan, yaitu shahih dan dhaif, istilah hadis hasan belum dikenal, sehingga hadis dhaif yang diambil oleh Ahmad dan diterimanya itu pada dasarnya adalah hadis yang tidak terlalu parah kedhaifannya atau periwayatnya tidak terlalu lemah, serta tidak bertentangan dengan Alquran dan hadis shahih, atau setingkat dengan hadis hasan dalam konsep al-Turmudziy.
Namun demikian, keberadaan hadis dhaif atau bahkan maudhu menurut ulama tertentu, jelas telah menjadikan musnad Ahmad ini tidak masuk dalam kategori kitab-kitab hadis standar, baik ushul al-khamsah ataupun kutub al-sittah.
E. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hadis-hadis dalam Musnad Ahmad bin Hanbal ada yang berkualitas shahih dan dhaif sebagaimana kitab musnad lainnya. Keberadaan hadis dhaif dalam Musnad Ahmad ini tidak terlepas dari sikap dan pendapatnya terhadap hadis dhaif tersebut, di mana ia lebih mendahulukan hadis dhaif daripada pendapat atau ra’yu. Ia juga membolehkan mempergunakan hadis dhaif sebagai dasar dalam masalah fadhail ‘amal atau dasar tentang faidha dan kegunaan suatu amalan.
Abdullah, putra Ahmad bin Hanbal bisa pula dikatakan memiliki andil atas keberadaan hadis-hadis dhaif atau maudhu’ dalam Musnad Ahmad bin hanbal ini, karena sebagian ulama berpendapat bahwa dialah yang telah memasukkan hadis-hadis dhaif tersebut ke dalam musnad.
Pada dasarnya, yang dimaksud oleh Ahmad bin Hanbal sebagai hadis dhaif adalah hadis yang setingkat dengan hadis hasan, karena pada masa hidupnya, istilah hadis hasan tersebut belum dikenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: